Minggu, 20 Maret 2022

RUMAH TERKUTUK

 

Assalamualaikum. Jumpa lagi kita di sini. Di kisah lain dalam tulisan bercerita.

 

Kali ini tentang kisah apa ya?

 

Hmmm?

 

Kalau gitu, saat event di KM Aksara bertema horor aja dah. Aku lupa bulan apa, tapi event ini kuikuti tahun lalu, 2021. Aku kira menulis dengan ide “TERSERAH”. Ternyata sudah dikasih oleh juri untuk memilih di antara tiga skenario untuk dikembangkan menjadi sebuah cerita pendek.

Ini tiga skenario:

1.Aku berada di sebuah rumah kosong. Tanpa ingat apa yang terjadi. Hanya saja tanganku memegang sebuah gergaji mesin yang berlumuran darah. Disekelilingku terbujur mayat-mayat bergelimpangan dan tak lagi utuh.

2. Aku bermain petak umpet. Kenapa mereka tidak juga menemukanku. Dan saat aku hendak keluar dari tempat persembunyiaanku, mendadak aku berada di tempat yang berbeda.

3. Aku membeli sebuah boneka di toko barang bekas. Anehnya, hampir setiap malam aku mendengar suara langkah kaki dan orang yang sedang bersenandung.

 

Pilihan ini gak begitu sulit. Mengembangkan isinya yang lumayan sulit. Awalnya banyak ide di kepala tentang skenario nomor 1. Namun, entah kenapa akhirnya malah nyasar ke skenario 3.

 

Alhamdulillah, walaupun aku gak begitu puas dengan isi tulisan ini, tapi masuk pula sebagai kontribusi tulisan terpilih. Aku mengusung judul RUMAH TERKUTUK di buku antalogi MELODI KEGELEPAN.

 

Yaaah, dinikmati aja lah.

 

Yuk, kita eksekusi isinya! Apakah bisa dikatakan seram, menakutkan, atau membingungkan?

 

Cekidooot ....

 

 

 

 

RUMAH TERKUTUK

 

 

          “Di sini?”

          “Iya.”

          “Tapi nggak ada apa-apa di sini.”

          Iya. Memang tidak ada apa-apa di sini.

          Hana menyisir tanaman rumput di sekitarnya. Masih ada terlihat bekas bangunan lama.

          Semua kesalahan itu bermula dari sini dan berakhir juga di sini. Saat itu, umurnya hampir berusia dua belas tahun. Setelah menamatkan sekolah dasar, ayahnya pindah kerja dan Hana melanjutkan SMP di sana.

 

***

 

          “Bagaimana?” Samsul menatap wajah istrinya.

          Irma berjalan mengelilingi ruangan demi ruangan. “Hmm. Lumayan.”

Rumah ini tidak terlalu besar, tetapi cukup nyaman dan tampak asri dilihat dari depan. Hana, Juli dan Diki berlarian ke sana ke mari. Hana memeriksa dapur. Ada pintu bertuliskan GUDANG dan pintu di ujung yang menuju teras samping.

          Gadis itu berjalan pelan menuju pintu teras yang sedikit terbuka. Angin melambaikan tirai jendela di samping pintunya. Pintu itu bergaya zaman, setengahnya hanya berupa kaca buram yang bercorak abstrak dan tebal. Hana tidak pernah melihat jenis pintu seperti itu.

          Pintu sedikit berderit ketika Hana membuka lebih lebar. Angin menyibak rambut serta baju terusannya. Sekelebat hitam melintas dari ekor mata Hana. Seketika gadis kecil itu menoleh dan hanya mendapati jejeran pohon mahoni di halaman samping yang terkesan sunyi dan sepi. Anginnya seperti berirama.

          Di halaman belakang tampak ayah dan bundanya memandangi sekitar sambil bercakap-cakap.

          PLOK! PLOK! PLOK!

          Hana terkejut dan menoleh ke belakang.

          “Ayuk! Sudah lihat-lihatnya. Kita cari makan dulu.” Irma bertepuk tangan memanggil Hana.

          Loh? Bunda? Yang tadi di belakang ... siapa?

 

***

 

          “Cantik?”

          “Iya, cantik. Boleh saya beli, Bun?”

          Irma tersenyum, lalu menuju meja kasir dan menawar harga boneka yang dipegang putrinya.

          Hana memeluk boneka cantik pilihannya. Meskipun bukan boneka baru dan dibeli di toko barang bekas, tetapi dia suka tampilannya. Rambut bonekanya pendek sebahu dan bisa dikuncir dua. Mata hitamnya besar dengan sedikit warna putih di bagian bola mata. Bibirnya mungil dan tampak seperti senyum dikulum. Tampilan kulit bonekanya berwarna coklat tua dan sudah sedikit luntur. Bajunya kaus loreng merah biru, diikuti celana kodok. Sepatunya pun terkesan elegan serta bisa dilepas.

          Gadis itu memutuskan memberi nama Anti kepada bonekanya. Sudah seminggu Anti tidur bersama Hana. Namun, Juli selalu merengek kepada Bunda agar Hana memberikan Anti kepadanya. Kemarin, setelah pulang sekolah, selama tiga hari Hana sengaja melewati toko barang bekas itu lagi. Berharap ada Anti yang lain untuk Juli. Akan tetapi, toko itu selalu tutup.

          “Ayuk. Anti boleh tidur dengan Juli? Juli takut tidur sendiri.”

          Wajah memelas adiknya tidak dapat ditolak. “Boleh. Malam ini saja ya.”

          “Hmm.” Gadis kecil itu langsung menggendong Anti dan berlari ke kamarnya sendiri.

          Malam ini, Hana memilih mengalah dan membiarkan Anti dibawa tidur oleh Juli. Anehnya, ketika tengah malam Hana mengecek Juli di kamar, adiknya tidak ada di sana.

          Saat sarapan sebelum pergi sekolah, Hana mencoba bertanya kepada Juli.

          “Tadi malam kamu ke mana? Ayuk cariin nggak ada. Di kamar mandi juga nggak ada.”

          “Ada, kok.”

          Hana terdiam. Jelas-jelas dia memeriksa kamar itu dan tidak ada keberadaan Juli.

 

***

 

          Malam ini terasa sangat panas. Hana terpaksa membiarkan pintu kamar terbuka. Dari ranjang tidurnya jelas terlihat ruang tengah dengan kursi goyang yang mereka temukan di gudang.

          Sepertinya si penjual rumah tidak menceritakan apa pun kepada ayah dan bundanya tentang kursi goyang itu karena ketika kedua orang tuanya menghubungi si penjual rumah, nomor telepon itu sudah tidak terdaftar lagi.

Tanpa sengaja, Hana melihat kursi itu bergoyang. Anti duduk di sana. Tidak ada pikiran apa pun, gadis itu mendekati kursi dan menggendong Anti ke kamarnya. Mungkin Juli lupa.

          Belum lima menit matanya terpejam, udara panas membuat Hana pergi ke dapur. Rasanya tenggorokan begitu kering. Dari sana, gadis itu pergi mengecek kamar Juli yang bersebelahan dengan kamarnya. Kaget bercampur heran ketika Hana melihat adiknya dari balik selimut yang menggigil kedinginan di samping Anti.

          Anti?

          Wajah Hana menegang.

 

***

 

          Sudah dua hari Anti tersimpan rapi di dalam lemari kaca di ruang tamu. Berharap Juli tidak menemukannya. Sejak itu pula kondisi kesehatan Juli semakin menurun. Adiknya jadi malas pergi ke sekolah. Begitu juga dengan ayahnya yang semakin jarang ke kantor dan Bunda selalu tampak lesu. Hanya ingin tidur dan tidur.

          Hana pun tidak berani tidur sendiri. Gadis itu memilih tidur di kamar Juli yang berhadapan dengan kamar orang tua mereka. Namun, bukan rasa nyaman yang dialami Hana, setiap malam dia mendengar langkah sepatu yang berdecit dari ruang tengah sambil bersenandung entah lagu apa. Belum lagi suara orang bercakap-cakap dan suara tawa anak kecil.

          Anak kecil?

          Hana langsung duduk tegak. Suara tawa itu seperti suara Diki. Gadis itu segera turun dari ranjang dan terkejut melihat Juli tidak ada di sana.

         Kakinya langsung berlari menuju pintu ke luar dan menyisir ruang tengah yang temaram. Tidak ada siapa pun atau apa pun di sana. Akan tetapi, suara orang bercakap-cakap masih terus terdengar. Hana mencari asal suara. Gadis itu pun menuju ke dapur.

          Suara jeritan Hana tertahan. Gadis itu berdiri mematung di tempatnya. Ada bayangan seseorang yang berdiri di pintu kaca. Hanya diam tidak bergerak.   Hana berjalan melipir di sisi tembok dapur untuk sampai ke asal suara. Ada cahaya dari dalam gudang dan pintunya pun terbuka. Gudang itu agak sedikit ke bawah, lalu dengan pelan gadis itu menuruni tangga.

          “Juli? Lah? Diki, kok, di sini juga?” Boneka itu? Kenapa ada di sini? Posisinya sedang membelakangi Hana. Mereka bertiga duduk di depan cahaya lilin.

          Juli menengadah, lalu tersenyum. “Ayuk! Sini main dengan kita.”

          Kita?

          Saat itu, Anti memutar kepalanya seratus delapan puluh derajat dan menyeringai ke arah Hana. Ayuk! Sini main dengan kita.

 

***

 

         Hana tertegun begitu kakinya sampai di dalam rumah. Semua pintu dan jendela tertutup. Tidak ada sirkulasi udara. Setelah meletakkan tas sekolahnya, dia berjalan menuju kamar Bunda. Aroma busuk langsung menyeruak ketika pintu terbuka.

          “Bunda?” Hana menyibak sedikit selimut di ranjang. Pupil matanya membesar. Napasnya pun tertahan.

          “Hmm?”

          Urung niatnya ingin mengatakan sesuatu. Bau busuk itu dari balik selimut yang ada tubuh Samsul, Diki dan Irma. Namun, mereka bertiga masih bernapas.

          “Rumah ini auranya sangat buruk.”

          Gadis itu terkejut ketika seorang nenek-nenek bungkuk sudah berdiri di sampingnya.

          “Maksud nenek?”

          Si nenek menatap Hana iba. “Sebaiknya kalian segera pindah dari sana.”

          Hana hanya membisu menatap punggung si nenek yang semakin menjauh.

          “Bunda, Ayah! Ayok, kita keluar dari rumah ini!” Hana berusaha membangunkan orang tuanya setelah mengingat kejadian tadi.

          Tidak ada respon dari mereka, gadis itu pun berlari menuju kamar Juli. Adiknya tidak di sana. Kemudian, dia berlari menuju gudang. Juli sedang duduk sendiri menghadap lilin. Hana mengguncang-guncang tubuh adiknya yang tampak pucat itu.

          “Juli! Ayok, ikut Ayuk. Kita keluar dari sini.”

          Mata Juli yang kosong menatap kakaknya tanpa ekspresi. “Kita nggak bisa ke mana-mana, Yuk. Anti meminta kita menemaninya.”

          Tiba-tiba dari pintu gudang terdengar suara bersenandung dan decit sepatu. Anti turun perlahan. Hana menarik tubuh adiknya bersembunyi dibalik lemari tua.

          Anti menyisir ruangan, lalu duduk menghadap lilin. Hana tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sekop yang ada di sampingnya langsung dia arahkan ke kepala boneka itu. Jantungnya semakin bergemuruh. Benda itu diayunkannya dengan sekuat tenaga. Namun, tiba-tiba, kepala Anti menengadah menatapnya.

          Ketahuan!

          Hana langsung menghantam kepala Anti hingga tubuh boneka itu menjatuhkan lilin yang membakar rambutnya.

          Aaargh!

          Api mulai membara dan semakin melebar karena banyaknya barang-barang tua yang mudah terbakar di dalam gudang. Hana menarik tubuh Juli untuk ke luar dari sana. Jatuh bangun mereka menapaki tangga batu itu. Api mulai menghabiskan atap gudang dan dapur juga ruang tengah. Asap semakin mengaburkan pandangan.

          Hana terbatuk-batuk dan kembali membangunkan Diki juga orang tuanya. Namun, terlambat, mereka sudah terlanjur dilalap api. Hana dan Juli berlari menuju pintu ke luar dari ruang tamu. Sayang, mereka kesulitan membukanya. Entah mengapa, Hana menoleh ke arah lemari kaca tempatnya menyimpan Anti. Tepat saat itu, dari balik asap, Anti sedang berdiri dan melompat ke arah Juli, menarik rambutnya hingga gadis kecil itu terpelanting ke belakang.

          “Ayuuuk!!”

          Hana menarik kaki Juli. Gadis kecil itu menjerit menahan sakit karena tarikan di rambutnya. Tanpa pikir panjang, Hana pun menarik rambut Anti dan mencucuk mata boneka itu dengan kunci yang dia cabut.

          Aaargh!!

          Sedetik kemudian, platform jatuh menimpa Anti dan pintu terbuka lebar. Beberapa orang menarik ke luar tubuh Hana dan Juli sebelum platform lain jatuh menimpa mereka.

          Tidak ada satu orang warga pun yang bersuara. Hanya terdengar bara api dan hembusan angin sunyi.

 

 

Gimana?

 

Apakah sedikit terhibur dengan cerita horor? Menakutkan atau biasa saja?

 

Sesuai judulnya, RUMAH TERKUTUK. Menceritakan tentang rumah tua yang telah lama kosong dan terbengkalai. Sebenarnya boneka itu salah satu peninggalan rumah tua yang sedang mencari tuannya. Hadirnya di toko barang bekas karena adanya kemampuan aneh yang ada dalam tubuh boneka itu untuk mencari tuan baru. Di sini gak sempat kuceritakan secara detail karena keterbatasan kata untuk lolos dalam event. Jadi, aku hanya bercerita tentang keluarga yang telah salah memilih untuk tinggal di sana.

 

Yaah! Begitulah ceritanya. Ngeri juga, sih, kalau ada di kehidupan nyata.

 

Terima kasih ya, udah mampir di mari dan menyimak tulisanku kali ini. Semoga kisah ini pun dapat dinikmati dan membuat kita semua selalu melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang.

 

Wassalamualaikum!

29 komentar:

  1. Serem yaa...kalau baca cerita horor tuh nggak boleh di tempat sepi, jadi merindiiing...

    BalasHapus
    Balasan
    1. 😅

      Kelihatan sepi, mbaa, tapi ‘mereka’ kan ada dimana-mana 🤭

      Hapus
  2. Kelihatannya yang terkutuk itu sebenanya bonekanya ya, bukan rumahnya, atau rumahnya juga memiliki peran dalam membuat 'kutukan' atas boneka itu?

    BalasHapus
  3. Tegangnya dapet. Saya suka cara berceritanya. Antinya yang jadi perusuh malahan ya.

    BalasHapus
  4. Maksudnya plapon kali ya mba...bukan platform. BTW ceritanya bagus. Feelnya dapet

    BalasHapus
  5. Wah Mbak Nuri pandai membuat cerita horor. Idenya dari mana? Apakah pernah mendengar cerita seperti itu di kehidupan nyata>

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngarang aja kok, mbaa, dan jangan sampai ada 😅

      Hapus
  6. Aku baca ini jadi inget sama satu rumah peninggalan kakek yang udah lamaaa banget ngga dihuni, dijualpun ngga laku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak emang ya rumah tua yang kadang gak berpenghuni lagi, ada baiknya dipugar sebelum jadi sarang setan dan jin ya 🤔

      Hapus
  7. bacanya ngalir banget sampe tegang wkwkwk btw samsul diki irna itu siapa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samsul dan Irma itu orang tua Hana dan Juli, kalau Diki, adiknya Hana dan Juli, mbaa 🤗

      Hapus
  8. Duh, jadi baca juga cerita horor >_< Jadi orang tua dan adik laki-lakinya Hana pun ikut meninggal di rumah itu karena kebakaran ya Mbak?

    BalasHapus
  9. Udah deh kalau berhubungan ama cerita horor yang ada bonekanya bikin ankat tangan. Sampe aku tuh ngga mau beliin anak-anak boneka2 gini. Mending mainan lainnya haha.

    BalasHapus
  10. Sama dong, mbaa, aku juga gak suka beli boneka yang menyerupai manusia, 😓

    BalasHapus
  11. Ini nih alesan dari dulu aku paling ogah sama boneka yang menyerupai manusia hehe

    BalasHapus
  12. Saya mah biasa aja. Tapi kalau merasa tegang iya hehehe ...
    Yang pasti gak pernah tuh beli boneka seperti yg lagi hits. Kecuali ya Boneka binatang mainan anak gitu

    BalasHapus
  13. akupun suka merinding lihat boneka yang seperti bayi, atau boneka yang kemarin sempet viral kemarin, serem aja lihatnya..

    BalasHapus
  14. Ceritanha bagus. Merinding bacanya. Aku bisa membayangkan ceritanya berjalan

    BalasHapus
  15. Amit-amit ya kalau yang kayak gini ada dalam kehidupan nyata. Rumahnya perlu diruwat. Hahaha.

    BalasHapus
  16. Ini cerita kubaca pagi-pagi aja udah bikin merinding, apalagi kalau dibaca malam-malam

    BalasHapus
  17. Seru juga mba cerita horrornya, untung dibaca pagi2 jadi nggak gitu merinding, kalo malem pasti celingak celinguk juga nih serem haha..

    BalasHapus
  18. Serem ya kalau Kita salah Memilih rumah buat tinggal. Membaca kisah ini berasa banget aura horornya ..

    BalasHapus
  19. Sereeem euuyy... jadi ingat jaman dulu ada serial Friday The 13th. Ada juga boneka yang gini ini, meneror tuannya sendiri. Bagus nih cerita horornya, berhasil bikin merinding.

    BalasHapus
  20. Jujur, aku nggak berani teruskan baca ceritanya, karena aku tuh suka kebayang-bayang terus kalau baca yang horor gini..

    BalasHapus

(FLASHBACK) DARI TANAH TANDUS

  Blurb: “Kak Ineee. Kepala Rubi pusing, Kak.” “Bertahanlah, Rubi! Bukan sekarang saatnya!” Ine dan Rubi, dua gadis kecil yang ter...