Sabtu, 20 Mei 2023

(FLASHBACK) DARI TANAH TANDUS

 

Blurb:

“Kak Ineee. Kepala Rubi pusing, Kak.”

“Bertahanlah, Rubi! Bukan sekarang saatnya!”

Ine dan Rubi, dua gadis kecil yang terpaksa kuat untuk bisa melalui hari-hari.

Ditemani Jio, seorang pemuda tanggung yang merintis hidup demi diri sendiri dan kedua gadis yang mengikutinya. Mereka berjuang hidup untuk sekedar keluar dari jerat kelaparan.

Namun, sampai kapan mereka harus mengaluri hidup tanpa impian? Benarkah mereka tidak memiliki impian?

 

***

 

Alhamdulillah, berwujud buku juga akhirnya tulisan ini. Idenya sudah sangat sangat sangat lama, sih. Setiap kudengar lagu Pak Ebiet G. Ade yang berjudul KETEGARAN HATI SEORANG PENGEMIS DAN ANAKNYA, aku membayangkan bagaimana perjalanan hidup di jalanan. Hanya saja, eksekusinya kira-kira hampir tiga tahun untuk diselesaikan. Lalu, tanpa sengaja kuikutsertakan dalam lomba kategori novel yang diadakan oleh penerbit Ellunar.

 

Tak jauh-jauh dari judul lagu Pak Ebiet, aku memikirkan tentang seorang anak kecil yang dibuang ibunya. Tentang mirisnya kehidupan mapan seorang wanita dan harapan-harapannya untuk menemukan kembali sang anak. Di satu sisi, tipisnya harapan hidup seorang pemuda yang baru tumbuh remaja. Dia sampai mengesampingkan indahnya dunia sekolah dan persahabatan antar manusia.

 

Menilik cerita seputar masyarakat kalangan menengah ke bawah, cerita ini masuk dalam sepuluh terbaik. Sekali lagi, Alhamdulillah. Padahal biasanya tulisanku selalu bergenre horor thriller. Entah mengapa, tanganku gatel mengetik tentang kehidupan ala kadarnya, jalan berliku orang-orang susah di luar sana.

 

Tulisan ini mulai berproses saat aku membaca suatu ayat dalam Alquran,

 

(QS. Al Kahfi 103-104)

Katakanlah: Maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?

(Yaitu) orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

 

Kemudian, ayat ini,

 

(QS. Al Araf 179)

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia.

Mereka mempunyai hati, (tetapi) tidak (dipergunakan untuk) memahami ayat-ayat (Allah),

Dan mereka mempunyai mata, (tetapi) tidak (dipergunakan untuk) melihat tanda-tanda kebesaran (Allah),

Dan mereka mempunyai telinga, (tetapi) tidak (dipergunakan untuk) mendengar ayat-ayat (Allah).

Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai.

 

Dan ayat ini,

 

(QS. Ali Imran 185)

“Setiap yang berjiwa pasti akan mati.”

 


Sedikit tentang isi novel DARI TANAH TANDUS, tentang bagaimana setiap kematian itu datang.

 

Pada akhir chapter, aku suka ketika istri Kek Sidik mengatakan, Kalau kamu mau, pasti kamu temukan jalan. Kalau kamu tidak mau, pasti kamu temukan alasan. Tapi, kamu bisa memilih untuk punya akhir dengan cara yang buruk atau cara yang baik.

 

Tiap orang mungkin memiliki standar sendiri mengenai tolak ukur yang menjadi prioritas untuk menentukan apa yang penting, kurang penting dan tak penting dalam hidup. Tergantung nilai yang kita yakini. Jadi, sifatnya relatif.

 

Namun, sebagai orang beriman, kita punya garis tegas yang membatasi apa saja yang akan kita lakukan, yaitu kematian. Ketika ajal tiba, ia tak dapat dipercepat maupun ditunda. Datangnya pun tak terduga. Tak selalu ada tanda. Bisa sangat tiba-tiba. Karena itu, kita dituntut untuk selalu waspada.

 

Di antara bentuk kewaspadaan kita adalah dengan senantiasa berusaha mendahulukan amal shalih di setiap kesempatan yang ada. Sebab, bisa saja saat seseorang sedang menunda kebaikan, dia keburu dihampiri kematian. Jika itu terjadi, dia rugi telah membuang satu kesempatan.

 

Allah mengingatkan kita, “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Maka, apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al A’raf 34)

 

Namun, seringkali kita terlalu percaya diri mengira bahwa batas waktu (maut) masih belum bakal menghampiri dalam waktu dekat ini. Padahal, tak seorang pun tahu, kapan Allah tetapkan saat itu.

 

Berapa banyak diantara kita yang serius mempersiapkan diri jika ternyata Allah takdirkan mati muda?

 

Optimisme hidup memang mesti dipelihara. Hanya saja, merasa aman dari maut adalah tanda jiwa kurang waspada.

 

Baeklah! Ini ada gambaran sedikit dari isi novel DARI TANAH TANDUS. Tak lupa di dalam tulisan itu kusematkan isi dari lagu Pak Ebiet tadi.

 

 

“Apa kau sudah gila?” Air mata Zahara mengalir begitu saja. “Nggak bisakah kau titipkan ke rumah kakak jika kau nggak sanggup menjaganya? Bukankah selama ini juga begitu?”

“Kak, udahlah! Nggak ada gunanya diperpanjang lagi. Sekarang yang penting mencarinya.” Bara berusaha mengontrol emosi kakak kandungnya.

Vika menangis senggugukan di samping suaminya. Sepertinya Zahara sudah mendapat kabar itu dari sang ibu tentang pencaharian Rubi. Paginya wanita itu langsung datang meminta penjelasan Bara dan Vika.

Wanita itu tersungkur di sofa dengan raut wajah  tidak percaya. Matanya bias menatap sekitar. “Dia masih sangat kecil.” Suara Zahara begitu lirih dengan air mata yang terus mengalir. “Apa yang bisa dia lakukan di luar sana? Apa kalian yakin dia baik-baik aja sampai saat ini? Bagaiman kalau Rubi yang kalian cari udah lama mati tanpa ada yang perduli.”

“Kak!” Bara memekik lirih.

Vika menjerit histeris. “Aah!! Aku minta maaf! Aku minta maaf!”

Zahara menunduk sambil menangkup telapak tangan di wajahnya. Wanita itu menghapus air matanya dengan punggung tangan. “Kakak harap ini bisa menjadi ujian atas kariermu yang selalu kau bangga-banggakan itu. Rasa bangga pada pencapaian diri memang manusiawi, tetapi jika nggak terkendali akan menjelma ‘ujub yang rentan membakar diri. Mana kala pencapaian itu sampai mengorbankan hal lain, maka nantikanlah datangnya rasa sesalmu. Semoga Allah masih berbaik hati terhadap hidupmu.”

Setelah Zahara pergi, Vika masih terus menangis. Tanpa kakak iparnya jelaskan semua pun, dia tetap meratapi kesedihan dan penyesalan yang mendalam. Setidaknya, sebagai pendakwah, kakak iparnya masih tetap santun berkata-kata, tidak seperti kakak maupun mamanya yang selalu memaki dan merendahkannya.

Bara membujuk istrinya untuk tetap tegar. Bagaimanapun semua sudah terjadi. Tuhan pasti punya maksud atas apa-apa yang telah kita kerjakan baik yang disengaja maupun tidak sengaja kita lalukan. Hanya saja, kita harus siap menerima setiap konsekuensi atas perbuatan kita.

Menilik setiap kejadian hari kemarin dan tadi pagi, Bara pun meminta izin cuti selama tiga hari ke depan untuk menjaga kondisi psikis istrinya.

 

***

 

“Kakek bilang, kita harus bersikap bodo amat. Jadi aku buat begitu terhadap Rubi. Kan, dia juga udah dapat duit dari membantu berjualan gorengan.” Tabiat keras kepala Ine mulai datang sehabis subuh tadi ketika Sidik sibuk berbenah untuk mencari Rubi.

Jio yang baru selesai mengaji terkejut dengan pernyataan Ine. “Ine! Kau, tuh, ....”

Sidik memberi kode dengan telapak tangannya ke arah Jio. Pria tua itu menarik napas panjang. “Sikap bodo amat bukan untuk membuat kita berpikir bahwa orang lain nggak penting. Sikap bodo amat mengajarkan kita untuk melupakan hal-hal di luar kendali kita dan lebih mengusahakan hal-hal yang ada di dalam kendali diri.” Sidik menatap Ine. “Ine, manusia itu tempatnya khilaf dan salah. Tapi nggak serta merta harus terus berbuat khilaf dan salah. Pahami itu. Jika ada temanmu yang berbuat salah atau berbuat semena-mena kepadamu, apa kau senang? Kau nggak marah?”

“Yaah, marah lah, Kek!”

Kembali Sidik menarik napas panjang. “Kalau temanmu nggak perduli dan membiarkanmu sendiri karena nggak mau bermain denganmu, apa kau pun bersikap bodo amat?”

Ine terdiam. Matanya menatap Jio dan Sidik bergantian, lalu menunduk serta menggeleng.

Sidik mendengus pelan. “Ine. Kita hidup itu harus saling tolong-menolong. Nggak ada yang percuma di dunia ini. Setiap orang yang singgah di kehidupan kita, meski hanya sebentar, itu juga membawa hikmah dan pelajaran. Nggak mungkin mereka hanya sebatas singgah tanpa Tuhan buat ada maksudnya. Sama seperti Kakek, Jio, Rubi, teman-temanmu, mereka singgah di kehidupanmu agar kau bisa belajar dari segala hal. Entah itu sikap kami, perkataan kami. Gitu juga sebaliknya. Kakek, Jio, Rubi, semua ikut belajar. Belajar bukan hanya di sekolah. Di rumah juga bisa, bersama orang tua, tetangga, teman bermain, bahkan dengan hewan pun kita belajar.”

Musala kembali hening. Hanya terdengar bunyi jarum jam yang berdetak di dinding.

“Semua langkah yang kita buat meninggalkan jejak di bumi. Semua napas yang kita hirup membawa kristal kehidupan. Artinya, apa pun yang lahir dan yang kita perbuat di dunia ini semua ada artinya. Tuhan nggak menciptakan sesuatu yang sia-sia, semuanya berguna. Sampai di situ kau udah paham, hmm?”

Ine masih menunduk, lalu mengangguk.

“Ya, udah. Ayok, kita cari Rubi.”

 

 

Jadi, cara yang bagaimana yang kita inginkan? Bukankah hidup ini sangat berharga untuk dijalani? Karenanya, pergunakanlah sebaik-baiknya, apalagi jika tujuan akhir kita adalah bertemu Allah di jannah yang sudah dijanjikan oleh-Nya.

 

Terakhir! Jangan lupa beli novelnya yaa. 🤗

 


Selasa, 09 Mei 2023

MENENTUKAN PILIHAN

 

Assalamualaikum!

 

Alhamdulillah, ada tulisan yang sedang proses untuk novel baruku dengan judul ASA UNTUK ANAK NEGERI PEDALAMAN. Ide awalnya hanya iseng ketika mengikuti event di IG @pro_kreatif untuk menulis selama 30 hari di bulan September.

 

Bercerita tentang Yusuf, seorang guru di pedalaman di tengah kebun-kebun kopi, yang mengalami ritme kehidupan tak biasa. Berjuang tanpa perduli suasana dan kondisi alam yang berubah-ubah. Bersabar meski banyak hambatan menghadang. Inilah risiko pilihan yang sedang berjalan.

 

Selain ide, untuk proses risetnya terbentur dengan berbagai masalah yang sedang kuhadapi. Dan mau tak mau, selama hampir 3 bulan aku benar-benar menghadapi alam yang tak bersahabat sama sekali.

 

Baeklah!

 

Aku bocorkan sedikit dari pertengahan chapter ya, bagaimana sampai Yusuf memilih jalan hidupnya. 


>>>>

 

“Gimana usaha kita? Aman?”

 

Abi dan Yusuf duduk santai di balkon hotel.

 

“Insyaa Allah, sejauh ini masih aman.”

 

“Ngajarmu?”

 

“Alhamdulillah. Menyenangkan.”

 

“Nggak ada niat pindah ke kota? Dari pada jauh ke pelosok sana.”

 

Yusuf mendesah pelan.

 

“Kamu masih bisa memilih, kok. Masih terbuka jalanmu untuk ikut Abang kerja ke luar negeri. Usaha di dalam negeri biar orang lain yang urus.” Abi masih berusaha meyakinkan adiknya untuk beralih pilihan.

 

Yusuf masih diam. Ingatannya kembali ke masa saat dia dan beberapa temannya sedang menunggu antrian pendaftaran CPNS.

 

“Yakin?” Rio tampak ragu-ragu sambil memeluk map merah miliknya.

 

“Kenapa nggak yakin?” Yusuf merasa heran dengan tingkah Rio.

 

“Kau yakin dengan pilihan ini? Bukankah yang ditawari Bang Abi lebih baik? Kalau aku yang ditawari, tentu aku nggak akan ada di sini.” Rio mulai terlihat lesu.

 

“Bro.” Yusuf meletakkan lengannya di pundak Rio. “Kita masih muda, kita memilih yang memang harus kita pilih. Bukan orang lain yang memilih.”

 

“Karena kita masih muda lah, makanya kita pilih yang terbaik. Kau sudah istikharah belum?”

 

Sambil menyeringai, Yusuf ragu-ragu menjawabnya. “Ng? Sudah.”

 

<<<<


Sepintas percakapan ini tampak sepele. Tapi ketahuilah, tak ada yang sia-sia di setiap pilihan yang kita ambil. Semua mengandung hikmah di dalamnya. Hanya saja, salah memilih bisa membuatmu berujung nestapa, karena kurangnya ridho dari Sang Maha Kuasa.

 

Itulah gunanya kita shalat istikharah. Jika kita sudah menentukan pilihan dan shalat istikharah, maka tugas kita selanjutnya adalah melakukan pilihan tersebut. Karena jawaban istikharah akan kita tahu ketika telah menjalankan pilihan itu.

Jika Allah mudahkan, maka pilihan itu adalah yang terbaik. Tapi jika Allah persulit, maka pilihan kita tadi bukanlah yang terbaik.

Karena isi doa istikharah garis besarnya adalah meminta kemudahan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala jika pilihan kita adalah yang terbaik untuk dunia dan akhirat kita.

 

Wallahualam.

 

Nanti, jika takdir menempatkanmu pada sebuah pilihan, maka libatkanlah Allah selalu. Agar ketika pilihanmu salah, maka Allah pula lah yang akan menuntunmu saat kau kehilangan arah.

 

Hmmm?

 

Sama seperti ketika aku memilih untuk mulai menetap di suatu daerah. Ternyata pilihanku salah. Sungguh banyak kesulitan selama di sana. Walau tentu saja tetap ada kemudahan di dalamnya. Namun, sampai sekarang aku masih merinding disko jika membayangkan kembali.

 

Dan hikmah dibalik kesulitanku selama di sana, banyak riset yang telah kulakukan untuk tulisan ini. Jadi, di dalam kesulitan tetap ada hal-hal baik yang bisa kita dapat.

 

Betul tidak?!

 

Ok lah kalau begitu. Nanti kita kembali lagi untuk bercerita tentang apa-apa saja yang terjadi di sana. 🤗

 

Jadi, pilihan Yusuf ini, apakah yang terbaik atau bukanlah yang terbaik?

 

Menurut kalian gimana? Mumpung scene-nya belum dituntaskan. 😅

 


Senin, 30 Mei 2022

BELAHAN JIWA PART III

 

 

Assalamualaikum! Apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan sehat dan baik-baik saja ya.

 

Akhirnyaaa ....

 

Sampai juga kita diakhir kisah Lara ya. Gimana nasibnya? Apakah berujung nestapa ataukah menyayat hati penuh air mata kebahagiaan?

 

Gak usah berlama-lama mengoceh ya. Kita lihat saja, yuuuk.

 

Cekidooot ....

 

 

 

 

Part V : Yang Sakit Mesti Mati

 

Tubuh Lara remuk redam. Wanita itu meringkuk menahan sakit lahir batinnya di atas ranjang. Dia berusaha menolak napsu Radith yang tidak terkendali. Akibatnya seluruh tubuh Lara menjadi pelampiasan emosi lelaki itu. Namun, dia merasa senang, karena berhasil menjaga harga dirinya.

Pelan Lara turun dari ranjang, bermaksud membasuh diri. Namun, belum sempat kakinya berdiri, Radith mendorong tubuh wanita itu hingga terhempas kembali ke ranjang.

"Uugh!" Lara memegang dadanya yang terasa sakit akibat tangan Radith yang mendorongnya sangat keras. Dia berusaha bangkit kembali.

Radith tidak memberi kesempatan wanita itu untuk bangkit. Kesal dan geram, tangannya mulai mengepal dan memukul Lara dengan membabi buta. Tidak ada perlawanan dari Lara. Wanita itu membiarkan perbuatan lelaki itu sampai dirasanya puas.

Lara memejamkan mata. Dia mulai merasa pusing dan ingin merebahkan kepala.

"Bangun! Bangun!" Radith menarik rambut Lara hingga wajahnya menyentuh wajah lelaki itu. "Tidak usah pura-pura mengantuk." Tangannya mengelus wajah Lara, lalu memukul tepat di hidungnya. "Wajah sok cantik ini tidak pantas untuk orang lain, dia hanya pantas untukku. Dengar! Untukku! Jadi jangan pernah kau pamerkan senyummu untuk orang lain. Paham!" Lelaki itu menghempaskan kepala Lara ke ranjang.

Kepala Lara semakin berdenyut, hidungnya mengeluarkan darah. Lelaki itu mondar mandir di depan pintu kamar mandi dan entah mengatakan apa. Pendengarannya kembali seperti dulu, terkadang kumat setelah mendapatkan hentakan dari benda tumpul. Lalu, tinju Radith datang lagi dengan bertubi-tubi. Lara terduduk menutupi wajah dengan lengannya hingga ke sudut ranjang.

Radith masih terus mengoceh tentang kekesalannya.

"Ke-ke-ke-kenapa k-k-kau lakukan ini padaku?" Lara memberanikan diri bersuara.

"Apa! Kau ingin tahu?" Wajah Radith semakin terlihat bengis. Ditariknya kaki Lara ke tepi ranjang.

"Aaargh!" Lara menjerit menahan tubuhnya.

Mereka bergumul di atas ranjang. Lara menggigit telinga Radith sekuatnya.

"Aaaaaaaargghh!!"

Lara berhasil lepas dari tangan dan kaki Radith, lalu turun dari ranjang dan berusaha keluar. Dengan menahan sakitnya, Radith kembali meraih kaki Lara dan wanita itu tersungkur di samping ranjang. Namun, Lara berhasil bangkit dan berlari menuju kursi kayu di dekat pintu. Dia mengangkat kursi itu dan membantingnya sekuat tenaga hingga menjadi potongan kayu. Lara meraih yang paling panjang dengan ujung yang sedikit runcing. Lalu, mengarahkannya ke depan Radith yang baru keluar dari kamar.

"Wow! Sayang!" Lelaki itu mengangkat tangannya ke atas. "Bukan begini caranya. Sayangku tidak akan berani melakukannya. Sayangku seorang yang lemah lembut. Letakkan kayu itu, Lara. Sayang?"

Lara semakin mempererat genggamannya pada kayu itu. "Kenapa kau lakukan ini padaku. Kenapaaaa!!" Lara berteriak.

"Hah? Kenapa? Hah.... Hahahahahahaha...." Lelaki itu memegang dagunya dan tertawa panjang. Lalu dia berjalan menuju tas yang tersampir di dinding dekat televisi. Mengambil sesuatu dan menunjukkannya di depan Lara. "Ini apa? Ini apa, hah?!" Tangannya mengacung berkas itu di depan Lara dan menghamburkannya. Lelaki itu berbalik dan meninju dinding.

Lara melihat sekilas judul besar di berkas dekat kakinya. Panggilan Sidang Pengadilan Agama.

"Bisa-bisanya kau bermain di belakangku. Apa yang kau ceritakan tentang kita kepada wanita itu, hah?!" Radith mondar-mandir di depan pintu kamar.

"Aku tidak menceritakan apa pun pada Jeni. Dia tahu sendiri ketika mengunjungiku."

Radith kembali meninju dinding hingga membuat Lara terkejut dan mundur. Kayu semakin erat digenggamnya.

Wajah Radith menunjukkan kebengisannya. Lelaki itu tersenyum. "Sekarang tidak perlu khawatir." Dia melangkah mendekati Lara. Tangannya ingin menggapai wajah cantik istrinya.

Lara tetap mengacung kayu itu hingga Radith mundur kembali. "Apa maksudmu?"

"Semua sudah kubereskan. Mereka-mereka yang ingin memisahkan kita, tidak akan pernah selamat dari pantauanku."

"Apa maksudmu? Apa yang kau lakukan terhadap Jeni dan Bian?" Lara mulai khawatir.

"Jeni? Wanita lemah itu tidak bisa apa-apa. Hmm? Bian? Dia tinggal nama sekarang." Radith tersenyum penuh arti.

Tubuh Lara mulai bergetar. Air matanya tumpah ruah seketika. "Mas, k-k-kau sakit!"

Radith tertawa tanpa henti.

 

***

 

"Jeni! Apa yang kau lakukan?" Lara menutupi wajah dari kamera ponsel sahabatnya.

"Hanya untuk jaga-jaga, untuk bukti atas apa yang sudah terjadi. Secepatnya harus kau laporkan. Tanpa laporan darimu langsung tidak akan kuat. Sebaiknya kau bicara terus terang dengan bang Bian. Aku akan minta padanya kau ditangani secara khusus."

"Jen. Aku nggak mau terjadi apa-apa dengan mas Radith."

Pupil Jeni langsung membesar di depan Lara. "Gila kau! Apa yang sudah dia lakukan terhadapmu ini, apa kau anggap nggak terjadi apa-apa? Dia sakit, Ra. Psikopat yang pesakitan. Kau harus menjauh darinya."

"Tapi, Jen....."

Jeni menggenggam erat tangan Lara. "Kita tunggu sampai anak-anakmu satu tahun. Oke? Serahkan padaku semuanya."

"Jeni. Aku juga nggak mau terjadi sesuatu terhadap kalian berdua." Mata Lara mulai berkaca-kaca.

"Nggak akan terjadi apa-apa. Bang Bian pengacara handal. Kalaupun akan terjadi sesuatu, dia tidak bodoh, Ra."

Itu pembicaraan mereka setahun yang lalu. Sejak melahirkan, hampir setiap hari Jeni berkunjung ke rumahnya saat Radith di kantor untuk memastikan setiap kondisi dan keadaan Lara. Walau terkadang ayah dan saudaranya juga berkunjung, namun, mereka tidak pernah tahu apa yang telah Radith perbuat padanya. Suaminya sangat pandai berkata-kata. Jeni telah banyak membantunya. Lewat Jeni, Lara jadi tahu tentang masa lalu Radith yang buruk. Seorang pesakitan, yang meraih segalanya dengan menghalalkan segala cara.

Sialnya, Lara sangat mencintainya. Radith mampu membuat seluruh harinya indah dan membuat Lara menjadi wanita yang sempurna. Sampai segalanya berubah, yang membuat sedikit demi sedikit terkikis rasa cintanya terhadap lelaki itu.

 

***

 

"Mereka tidak tahu apa-apa, mereka tidak salah, Mas. Kenapa te...."

"Ada!"

Suara Radith yang berteriak mengagetkan Lara. Dia mundur selangkah.

"Mereka ingin memisahkanmu dariku. Kau milikku! Siapa pun yang bertujuan ingin memisahkan kita tidak akan luput dari pantauanku, termasuk ibumu!"

"Apa maksudmu?" Bibir Lara mulai bergetar.

Sudut bibir lelaki itu terangkat sedikit. "Huh! Kau kira siapa yang membuat ibumu sampai seperti itu?" Bibirnya mencibir dan mendengus kesal. "Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka, ibumu dan Jeni. Tentu saja aku nggak mau segala rencana dan perjuanganku kandas begitu saja."

Kaki Lara mulai limbung. "Ja-ja-jadi? Ma-mas, kau...."

"Oooh, Lara, Sayang. Jangan terlalu naif."

Lara terduduk. Kayu di tangannya terlepas begitu saja.

 

Lara sampai terlebih dahulu di rumah sakit sebelum Radith. Mereka janji bertemu di sana. Namun, ketika Lara sampai di kamar, mata ibunya membesar dan tangannya menunjuk ke arah infus. Wanita itu tidak begitu memperhatikannya, dia terlanjur panik melihat kondisi ibunya yang mulai sekarat.

Dokter dan perawat berdatangan karena jeritan Lara. Tepat saat itu, Radith merangkulnya dari belakang. Menenangkannya dan menjauh dari aktivitas dokter serta perawat. Wanita itu tidak sadar bahwa mata ibunya terus menatap tajam kepada Radith di akhir hayatnya.

 

Lara tidak kuasa menahan air matanya. Ini salahnya. Ini salahku! Karena aku, mama....

"Aaaaaaaargh! Aaaaaaargh!" Lara berteriak dengan memukul-mukul dadanya. Ibunya meninggal sebulan sebelum hari pernikahan Lara. Lalu, dia menikah dengan pembunuh ibunya. Kejadian itu terus terbayang di pikiran. Rasa bersalah dan sakit hati membuat tangis dan teriakkannya semakin menjadi.

Radith duduk memeluk istrinya, mencoba menenangkan. "Sayang, bagaimana pun itu telah terjadi. Maafkan aku, hmm?" Tangannya menghapus air mata di wajah cantik istrinya.

Air mata Lara terus bergulir, namun, raut wajahnya tampak datar tak berekspresi.

"Uugh!" Radith mundur dan meraba perut. Kayu runcing itu telah tertancap di bagian kiri bawah perutnya. "La-la-lara...."

Wanita itu masih menatap wajah Radith tanpa ekspresi. Air matanya terus bercucuran dan dia semakin mendorong kayu itu. Lara mulai bangkit dan membiarkan Radith tersungkur. Tangan lelaki itu meraih kaki Lara. Salah satunya mencoba mencabut kayu dari perutnya.

Lara berlari menuju kolong sofa, meraih kunci yang dia sembunyikan di sana. Kemudian dia menuju pintu dan membukanya. Sebelum beranjak, kakinya terhenti di depan.

"La-la-ra, Sa-sayang. Ja-ja-jangan ti-tinggalkan aku. Aku sa-sa-sangat me-men-cintai-mu." Radith masih sempat berdiri dan membawa kayu itu ke arah punggung Lara.

Lara menutup pintu dan menguncinya kembali. Sengaja kunci itu tidak dia cabut. Lalu, dia beralih ke samping teras. Menuangkan seluruh isi bensin di sekeliling gubuk. Kemarin, saat berhasil melarikan diri, wanita itu sekilas melihat jeriken berisi bensin yang biasa dipakai Radith untuk mobilnya.

"Lara! Laraa!" Radith panik dan berteriak sambil memukul pintu.

Lara berdiri di depan teras. Mengambil mancis dari saku celana dan melemparkannya ke depan.

BOOF!

Api langsung menjalar ke sekeliling gubuk. Lara berjalan menuju double cabin. Secepat mungkin meninggalkan teriakkan Radith dan nyala api yang semakin membara.

 

EPILOG

 

Lara terduduk dengan pandangan kosong menatap gemerlap lampu kota dari balik jendela kamar rumah sakit. Tubuhnya penat setelah sehari penuh tidak sadarkan diri. Wanita itu hanya ingat saat belum separuh jalan, double cabin itu kehabisan bensin. Lalu, dia berusaha berjalan dengan kondisi yang lemah dan setelah itu dia tidak ingat lagi apa yang terjadi. Dari cerita perawat, sepasang suami istri, buruh perkebunan yang menemukan Lara di jalan dan membawanya ke rumah sakit. Namun, mereka langsung pulang karena tidak ingin terlibat lebih jauh.

Luka lembam di wajah dan tubuhnya mulai terasa sakit. Sakit hatinya pun lebih dari pada itu. Tangan kirinya terus-menerus mengusap perut dan matanya masih tetap kosong menatap gelapnya malam dari balik jendela.

Bagaimana sekarang? Apa yang harus aku lakukan, Nak? Kemudian, tanpa disadari, bulir-bulir bening itu terus berjatuhan di wajahnya yang tanpa ekspresi.

Sementara itu, dari luar kamar Lara, dari bagian UGD, sedari pagi beberapa dokter dan perawat disibukkan dengan kedatangan pasien yang mengalami luka bakar serius. Penanganan ekstra sampai kamar terisolasi pun terpenuhi untuk pasien tersebut.

"Baiklah. Saya pamit dulu." Lelaki itu melihat arlogi di tangan kirinya. "Untuk selanjutnya, saya serahkan wewenang penuh kesembuhan anda kepada ahlinya, Pak Radith."

Radith memberi kode dengan matanya lalu menoleh ke arah lain dan membiarkan orang kepercayaannya itu pergi. Dari balik perban yang menutupi hampir seluruh wajah, lelaki itu menatap salah satu kakinya yang digantung dengan perban juga, persis seperti mumi. Lara, sayang. Aku tidak akan benar-benar mati. Aku milikmu dan kau milikku. Kau belahan jiwaku.

 

_____

 

 


 

 

Gimana akhirnya? Mau dilanjutkan, gak? Gantung lagi ya.

 

Sebenarnya tulisan ini emang kupersiapkan untuk novelku yang dulu tertunda. Cuma dikarenakan aku ikutan event novelet dari penerbit AutumnMapleMedia, kuakhiri dengan plot twist yang ambigu.

 

Silahkan kasih aku saran, manteman, bagaimana keterusan dari tulisan ini.

 

Oke ya! Terima kasih, udah mampir di mari dan menyimak tulisanku kali ini. Semoga kisah ini pun dapat dinikmati dan membuat kita semua selalu melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang.

 

Wassalamualaikum! 

Minggu, 17 April 2022

BELAHAN JIWA PART II

view by Pinterest

 

 

Assalamualaikum! Apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan sehat dan baik-baik saja ya.

 

Minggu lalu tulisan ini kutampilkan dalam dua bab. Dan sesuai janjiku, kali ini pun kutampilkan dua bab lanjutannya. Ah, iya, bagi yang belum membaca di bagian awal, boleh intip sebentar tulisan BELAHAN JIWA ini di postingan dua minggu lalu ya.


Dan sekedar pemberitahuan saja, nih, pamer, sih, lebih tepatnya. 😅

Ini tulisan novelet pertama yang akhirnya bisa aku rampungkan. Beberapa ide masih nonggok di WPS dan juga masih betah menunggu uluran jari-jemariku yang ceking ini untuk dieksekusi. Tapi, entah kapan. 

 

Oke lah! Gak usah berlama-lama mengoceh ya. Kita lanjut saja, yuuuk.

 

Cekidooot ....

 

 

 

 

Part III : Sekarang Bagaimana?

 

Terkantuk-kantuk Lara menunggu pagi. Padahal, matahari baru juga menepi. Gelap di sekitarnya mulai menaungi. Alam liar mengambil perannya. Suara binatang malam mulai bersahutan. Dia tidak sendiri.

 

Malam ini, wanita itu memilih bermalam di atas pohon, tepat di belakang gubuk. Dia tidak ingin mengambil resiko untuk bermalam di gubuk. Bukan waktunya untuk berlari sepanjang malam. Dia perlu istirahat dan perlu memulihkan tenaga. Sesaat setelah berlari dari gubuk tadi, Lara berubah pikiran. Ada pohon akasia di samping gubuk menjorok agak ke belakang. Batang dan dahannya lumayan besar, bisa untuk duduk selonjoran. Namun, yang lebih penting lagi, daunnya rimbun.

 

Dulu, Lara adalah wanita lemah, pun bukan termasuk wanita manja. Dia pernah tinggal dan bersekolah di kampung ayahnya selama empat tahun, dikarenakan ayahnya pindah dinas ke luar pulau. Lara juga seorang gadis tomboi yang badung. Sangat berbeda dari abang dan kakaknya yang kalem.

 

Lara bersandar di batang pohon akasia. Matanya menerawang jauh di dalam kegelapan yang pekat. Matanya sudah sangat berat. Lahir batin dia lelah. Sulit untuk mengatakannya. Bulir bening turun membasahi pipi tirus wanita itu. Teringat suami, jagoan kembarnya, Tio dan Teo, ayah, bang Rian dan kak Desi. Bagaimana dengan mereka? Apakah mereka sadar aku telah menghilang? Apakah mereka tahu tentang keberadaanku? Setidaknya, apa yang telah terjadi padaku? Tidakkah mereka mulai mencariku? Rasanya sudah sangat lama Lara tidak bertemu dengan mereka. Lara menangis lirih menahan rindu.

 

***

 

Radith cemas. Terlihat dari rahangnya yang mengeras. Hari mulai gelap. Pelan dikendarainya double cabin hitam itu sambil matanya sesekali melihat kiri kanan sisi mobil. Berharap ada seseorang sedang mengintip atau berlari di antara batang-batang pohon karet. Gubuk tempat memadu kasih dengan Laranya memang sengaja dia pilih, dikarenakan letaknya yang sangat jauh ke dalam perkebunan. Tidak banyak buruh dan pekerja paruh waktu yang mau singgah ke sana, sehingga Radith leluasa membawa Lara. Para buruh dan pekerja di sekitar kantor dan kebun sudah sangat kenal dengan Radith. Mereka tidak menaruh curiga sedikit pun.

Matanya tajam menatap jalan di depan yang gelap. Mulutnya mengatup sangat rapat sampai terdengar gemelutuk gigi-giginya.

Lara, Sayangku. Kau harus membayar semua ini. Atas semua yang sudah kulakukan. Jangan salahkan aku jika aku marah nanti. Kau akan mendapat hukuman karena hari ini.

 

Radith mulai melaju ke tempat pencaharian selanjutnya. Dia tidak ingin melewatkan sedikit pun celah yang ada. Lampu sorot besar yang terpajang di atap double cabin cukup untuk menerangi sisi gelapnya batang-batang pohon karet hingga hampir setengah kilo meter ke depan.

Seekor cepelai melompat dari arah kiri dan memaksa Radith berhenti. Bulu lebat dengan mata yang bersinar itu terduduk di kap mobil menatap Radith. Pandangan Radith tanpa ekspresi. Mata lelaki itu memang melihat cerpelai di depan, namun, pikirannya terbang entah ke mana.

Saat itu, sekitar tiga tahun yang lalu, Radith meliburkan diri dua hari dari kantornya yang baru. Lelah dengan segala rutinitas dan kakinya melangkah ke kebun binatang. Di sana dia melihat seorang bidadari yang pasti dikirim Tuhan untuknya. Rambut yang mungkin cuma sampai sebahu dan dikuncir kuda, sedang memotret beberapa cerpelai yang bertingkah memamerkan kebolehannya. Kemeja polos warna kuning gading dipadu dengan jeans hitam usang yang menambah kesan sederhana. Lalu, ketika kamera itu turun dari wajah ovalnya, mata, hidung, bibir wanita itu membuat Radith berdiri terpaku. Dadanya bergemuruh. Lelaki itu tersadar, dia jatuh cinta.

 

Radith mulai terangsang dengan mengingat kenangan saat itu. Ekspresinya mulai terlihat. Ditekannya klakson mobil sepanjang yang dia suka. Cerpelai yang kaget langsung melompat ke atap mobil dan membuat suara yang berisik di sana. Radith memukul langit-langit di atas kepalanya dengan marah. Sambil memaki-maki, dia kembali menekan klakson.

Napasnya memburu. Dadanya turun naik di belakang kemudi. Keadaan kembali sunyi.

"Sial! Sial! Sialan!" Radith memaki sambil berkali-kali menghentakkan tangannya di kemudi.

 

***

 

Lara terjaga setelah merasakan sesuatu yang dingin menjalar di pundaknya. Napasnya tercekat. Dia menahan ketakutan. Melata itu mulai bergerak dari tubuh Lara. Sisiknya yang dingin dan lembap melewati wajah hingga pinggang dan langsung meluncur turun. Entah menuju ke mana.

 

Bukan kebijakan yang bagus memang memilih untuk bermalam di atas pohon. Dia sudah susah payah untuk keluar dari gubuk kayu. Karena itu, jangan sampai malah mati konyol di sini.

 

Peluh dan keringat dingin sudah membasahi tubuh Lara. Wanita itu masih menahan napas, takut bila sewaktu-waktu melata itu belum pergi terlalu jauh dan kembali lagi untuk melilit tubuhnya.

Dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali. Untuk sementara situasi dan keadaan wanita itu terbilang aman. Walau belum sepenuhnya dari kata nyaman.

Lalu tiba-tiba suara gema klakson mobil membuat Lara bergidik ngeri. Jantungnya kembali berdegub kencang. Tangan dilipat di dada dan diremasnya bagian pinggang. Lara menggigit bibir. Dia mulai khawatir. Suara klakson itu terdengar lagi. Lebih panjang dan sepertinya penuh kemarahan. Lara menerawang, mengingat kejadian silam.

 

Tergopoh-gopoh Lara membuka pintu pagar. Napasnya tersengal. Kandungannya yang sudah tua terasa berat untuk dibawa berlari. Hanya saja, suaminya seperti tidak sabar dan klakson mobil terus-menerus terdengar. Lara malu dengan tetangga sekitar.

Di dalam rumah, suaminya mulai melepaskan amarah dan menuding Lara dengan hal-hal yang tidak dia perbuat.

"Dari tadi aku telepon selalu terdengar nada sibuk. Dengan siapa kamu bicara? Hah?!"

"Dengan ayah kok, Mas. Lagian juga tidak lama, tidak sampai lima menit."

"Bohong kamu! Tadi sebelum kamu buka pintu pagar, aku juga coba telepon lagi. Masih nada sibuk. Bicara dengan siapa lagi kamu? Jawab!  Hah?!"

Tiba-tiba saja tangan suaminya sudah mengepit pipi wanita itu dengan suara yang meninggi melekat di depan wajahnya. Mata laki-laki itu menatap Lara dengan liar.

"M-m-mas, s-s-sa-sa-sakiiit...."

Lelaki itu bukan merenggangkan kepitan tangannya, jemari besar itu malah beralih menuju batang leher Lara, menekannya kasar sehingga wanita itu mundur dan terpojok di dinding.

Refleks air mata Lara keluar. Napasnya tercekat karena tekanan lengan suaminya yang semakin kuat. Mereka bersitatap. Sorot mata bengis terpancar dari tatapan tajam suaminya. Sedangkan Lara, menatap dengan iba dan meminta belas kasihan.

Menjelaskan seperti apa pun percuma, dia sudah paham sifat suaminya. Hanya saja, saat ini kehamilannya sudah mendekati usia lahir tetapi tetap saja suaminya tidak berubah.

Tekanan jemari lelaki itu terlepas setelah terdengar bunyi ponsel dari saku celananya. Lara batuk-batuk dan terduduk sambil memegang leher. Air mata masih dan terus menetes di pipinya. Dari ekor mata, terlihat suaminya melangkah menuju teras dan menerima telepon dengan santai. Lara berusaha berdiri dengan susah payah. Meraih ponsel di meja dan segera menekan nomor yang sudah mulai dihapalnya.

"Seperti janjimu. Aku terima semua konsekuensinya." Kemudian, dia menghapus riwayat panggilan tersebut.

 

***

 

Radith berjalan mengitari gubuk singgah. Senter besar diarahkannya ke seluruh penjuru pepohonan di sekitar gubuk. Mata elangnya tajam mengawasi di setiap sisi-sisi mata angin. Setelah puas dan merasa nihil temuan, lelaki itu mulai memeriksa isi gubuk. Berharap menemukan secuil jejak dari perempuannya.

Tidak ada apa-apa di sana. Lelaki itu mulai merebahkan tubuh yang penat. Pikirannya melanglang buana. Ceroboh sekali! Seandainya aku tidak berganti celana, tentu tidak akan terjadi seperti ini. Saat ini pasti aku sedang menikmati malam dan tubuhnya. Sial! Radith terduduk dan memukul dipan. Jari-jarinya mengepal rambut yang mulai gondrong.

Pekatnya malam di sekitar gubuk tidak membuat Radith bergeming. Lelaki itu terduduk memangku lengannya di atas lutut. Pikirannya mulai mencari tahu, di mana gerangan perempuannya bermalam saat ini.

 

***

 

Lara menahan napas. Jantungnya berdebar keras. Ada suara kendaraan di depan gubuk. Pergumulan batin terjadi di dalam pikiran dan hati wanita itu. Pergi meninggalkan tempat itu ataukah tetap bertahan?

Tidak lama kemudian, terdengar mesin kendaraan dimatikan dan pintu ditutup. Suara langkah kaki dari gesekan dedaunan kering semakin mendekati bagian belakang gubuk. Ada sinar dari lampu senter yang berkali-kali terpancar di sela-sela dahan akasia. Lara menunduk dalam-dalam dan menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Jantungnya bergemuruh. Hatinya terus berdoa agar jangan sampai ditemukan.

Siapa pun itu, pasti si Jahanam yang sedang mencarinya. Lara paham betul dengan suara kendaraan tadi. Lalu, langkah itu mulai mendekati pohon akasia. Tubuh wanita itu semakin bergetar. Jantungnya pun semakin bergemuruh. Bagaimana ini? Ya, Tuhan, bagaimana ini? Tolong! Jangan sampai terjadi! Pikiran dan hati wanita itu terus-terusan mengucapkannya.

Tiba-tiba ada suara benda jatuh dari arah gubuk singgah. Lara terkejut setengah mati. Si Jahanam itu pun berlari ke sana. Wanita itu menahan napasnya sambil tetap memasang telinga untuk mengetahui apa yang terjadi. Tidak terdengar apa pun, yang terdengar malah suara degub jantung akibat keterkejutan tadi.

Terdengar suara langkah menaiki tangga, dan tidak lama kemudian segera turun dan melompat. Kemudian suara sapu lidi yang membersihkan dipan gubuk. Tampaknya si Jahanam itu memilih berdiam diri di gubuk itu. Lara bergumam dan mengutuk diri.

 

 

Part IV : Harapan Yang Terkikis

 

Kicauan burung membangunkan Lara. Pelan matanya terbuka. Ada secercah jingga terlihat di balik atap gubuk. Beberapa burung gereja terbang ke sana ke mari dari atap ke pepohonan sekitarnya. Lama wanita itu melamun dan air matanya bergulir pelan. Subuh tadi terdengar olehnya suara azan. Banyak hal yang direnungkannya saat itu. Sudah berapa lamakah Engkau kutinggalkan? Matanya terpejam kembali, rasanya enggan beranjak.

Namun, langit sudah tak lagi jingga. Kabut masih betah di sana. Lara turun perlahan, merenggangkan tubuh dan berjalan ke belakang gubuk. Ada air bersih dari dalam ember besar di bawah tangga. Wanita itu membasuh wajah dan menenggak sedikit airnya lalu menggosok-gosok bagian lengan atas dan wajah. Kabut dan udara pagi ini begitu dingin.

Dia tidak ingat lagi kapan si Jahanam itu pergi dari gubuk. Wanita itu terlalu lelah berlari dan menangis sehingga dia tertidur tanpa tahu lagi apa yang terjadi.

Setelah merenggangkan tubuh dan otot-otot yang kaku, Lara mulai berjalan di tengah kabut. Jarak pandang masih bisa diatasinya. Hanya saja, kali ini dia berjalan di jalur kendaraan.

 

***

 

Radith bersandar di samping double cabin dan menghisap rokoknya dalam-dalam. Udara dingin ini membuatnya sulit tidur. Tadi malam, sekitar pukul sebelas, lelaki itu mulai meninggalkan gubuk. Tidak ada apa-apa di sana. Sialnya, dia malah ketiduran. Karena lelah dan bimbang, lelaki itu tidak memilih kembali ke gubuk mereka, dia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan tidur. Tengah malam lelaki itu terbangun. Hanya ada suara cekikikan dan tangis yang membuatnya muak.

Seluruh otot dan persendiannya ngilu akibat tidur di jok belakang yang sempit. Hari ini dia harus menuntaskan pekerjaannya. Mendapatkan Lara dan segera pergi dari negara ini setelah mengambil berkas.

Radith membenahi otot leher yang kaku dan membuang sisa rokoknya. Ujung sepatunya hampir masuk ke dalam mobil ketika mata elang itu melihat siluet di dalam kabut yang sangat dikenalnya keluar dari sisi jalan gubuk singgah. Sialan! Ternyata wanita itu memang ada di sana. Radith mengumpat dan merasa tertipu. Padahal, dia sudah berkali-kali mengitari gubuk.

Pintu mobil dihempaskannya dengan kasar. Napas lelaki itu memburu dan darahnya bergejolak. Lalu, dia berlari kencang menuju wanitanya.

 

***

 

Lara menguap sesaat. Langkahnya masih gontai. Udara pagi ini sangat dingin. Berkali-kali wanita itu mengusap-usap lengan dan wajahnya. Banyak harapan di pikirannya saat ini jika bisa keluar dari sini. Bertemu dengan anak-anak dan meminta maaf kepada suaminya.

Suara pintu mobil tertutup membuat Lara terkejut dan menoleh ke belakang. Pupil matanya membesar. Bayangan lelaki, si Jahanam itu, berlari ke arahnya dari balik kabut. Lara langsung mengambil langkah seribu. Tidak disangkanya si Jahanam itu menunggu di sana. Tidak terbersit sedikit pun di pikirannya.

"Lara!"

Lara terus melesat tanpa perduli suara panggilan itu. Ketakutan di pikirannya tentang kembali lagi ke gubuk sialan itu membuat perutnya mual. Terlebih lagi tentang perbuatan si Jahanam itu yang terus-menerus menggagahinya. Lara ingin sekali menghapus semua ingatan tentang hal itu.

"Aaaaaagh!" Lara berteriak sekerasnya. Jalan menanjak di depan membuatnya hilang kendali. Wanita itu berharap ini semua hanya mimpi. Lelaki itu hampir mendekatinya. Bagaimana pun, kaki panjang si Jahanam itu lebih lebar langkah berlarinya dari pada dia.

Tangan besar itu sudah ada di pinggang dan perut Lara. Mengangkat dan mendekapnya sekuat mungkin.

"Aaagh! Aaagh! Aaagh!" Lara berontak, menendang-nendang udara dan berkali memukul-mukul lengan kekar itu. Mereka berbalik arah kembali ke mobil diparkir. Mata Lara terbelalak dan menggigit lengan yang mendekap erat pinggangnya.

"Aaaaaaarrrgh!" Lengan si Jahanam merenggang.

Lara tersungkur, mencoba bangkit dan berlari kembali. Namun, lengan lelaki itu berhasil meraih pinggang wanita itu, membalikkan tubuh ramping Lara yang terus-menerus melakukan pemberontakan. Wanita itu terus menerjang tanpa henti. Tidak tahan dengan hentakkan kaki Lara, lelaki itu mulai mengapit paha dan menindihnya.

"Aaaagh! Aaaagh!" Lara memukul-mukul wajah dan dada lelaki itu. Tangannya melemah setelah tampak wajah tak asing di atasnya. "Ma-ma-mas Radith?"

Lelaki itu meraba wajahnya. Dia terlupa akan topeng yang biasa dipakai. "Akhirnya kau tahu siapa aku." Tangan lebarnya langsung memukul wajah Lara sehingga wanita itu tidak sadarkan diri.

Radith berdiri, lalu menunduk dan mengatur napasnya yang tersengal. Disentuhnya lengan bekas gigitan Lara yang berdarah. Lelaki itu menyeringai. Kuat sekali wanita ini menggigitku.

 

***

 

Lara terbangun. Kepalanya sakit sekali. Wanita itu meraba wajah dan kepalanya. Pandangan sedikit buram dan matanya menatap langit-langit mobil. Seketika Lara terduduk dan mencoba membuka pintu. Tangan dan kakinya terikat! Begitu juga dengan mulutnya, tertutup lakban.

"Hmmm! Hmmm! Hmmm!" Lara berusaha berteriak meskipun tidak ada yang akan mendengar.

"Sudah bangun, Sayang." Radith mengarahkan kaca spion tengah ke wajah panik wanita di jok belakang. Senyumnya merekah. "Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu. Tapi aku nggak akan ambil resiko jika kesayanganku melarikan diri lagi."

"Hmmm! Hmmm!" Lara menghentak-hentakkan kakinya ke kursi belakang kemudi.

"Jangan terlalu bersemangat, Sayang. Simpan tenagamu sebelum aku menikmatinya nanti."

Air mata Lara tidak terbendung lagi. Emosinya kian memuncak. Kakinya terus dihentakkan sampai dia merasa tidak sanggup. Tubuhnya mulai rebah, pasrah.

 

***

 

"Kita sudah sampai, Sayang."

Lara diam tak bergeming. Wanita itu masih meringkuk. Matanya kosong. Pikirannya melanglang buana jauh entah ke mana.

Radith bersiul pelan. Lelaki itu jalan melenggang menuju gubuk dengan penuh kebahagiaan. Pintu dibuka selebar mungkin. Dia kembali ke mobil dan menggendong wanitanya keluar. Dikecupnya mesra bibir yang tertutup lakban itu. "Mmmuach!" Senyumnya merekah. "Akhirnya kita bersama lagi. Kau memang belahan jiwa yang ditakdirkan untukku." Kakinya menendang pintu mobil agar tertutup.

Dia memang sakit! Kau sakit, Radith! Sakit jiwa! Lara membuang muka, jengah. Napas lelaki yang menggendongnya jatuh ke wajah membuat wanita itu semakin mual. Matanya menangkap sesuatu yang berkilauan di dekat undakan teras gubuk. Wanita itu menggeliat sekuatnya dan membuat langkah Radith limbung. Lara terjatuh. Secepat mungkin dia menduduki benda berkilauan itu.

"Eits, eits! Mau ke mana." Radith segera meraih pinggang Lara dan menggotongnya masuk ke dalam gubuk. Dia masih bersiul. Direbahkannya wanita itu di sofa, lelaki itu berjalan kembali untuk menutup pintu.

"Hmmm! Hmmm!" Lara sengaja berteriak sambil membuang benda di tangannya ke bawah sofa.

"Sabar, Sayang. Aku pun sudah tidak sabar ingin menikmati saat ini."

 

====> bersambung

 

 

 

 

Gimana? Gregetan gak?

 

Dua bab ini lumayan panjang ya. Masih penasaran dan ingin tahu kelanjutan nasib Lara nih, manteman?

 

Minggu ini dibuat gantung lagi. Insyaa Allah kita lanjutkan jika ada umur panjang dan ada rejeki waktu luang.

 

Oke ya! Terima kasih, udah mampir di mari dan menyimak tulisanku kali ini. Semoga kisah ini pun dapat dinikmati dan membuat kita semua selalu melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang.

 

Wassalamualaikum! 

(FLASHBACK) DARI TANAH TANDUS

  Blurb: “Kak Ineee. Kepala Rubi pusing, Kak.” “Bertahanlah, Rubi! Bukan sekarang saatnya!” Ine dan Rubi, dua gadis kecil yang ter...