Sabtu, 10 April 2021

Dirajai Kepenatan

 

Bubur kacang hijau di atas meja hanya dipandangi dengan lesu. Wajah Maisaroh tampak pucat seperti mayat. Pikirannya tidak di sana.

Ke mana aku setelah ini? Lalu, bagaimana dengan anakku? Barang-barang ini ingin saja kubuang!

Berbagai macam pikiran wanita itu menari-nari di ujung lelah. Matanya memandang muak setiap membayangkan apa yang akan dilakukan selanjutnya.

"Berkas kemarin salah, coba buat ulang, kalau bisa sesuai yang saya lampirkan kemarin, sehingga ibu tidak perlu bolak-balik mengurusnya. Lakukan saja sesuai prosedur."

Bibir notaris itu agak sedikit monyong ketika menjelaskannya. Lalu, pandangan Maisaroh teralih ke adiknya, Suriyem dan Juminten. Mereka saling berpandangan. Ingin menyalahkan bapak, tetapi sadar, bukan saatnya.

Setelah basa basi dan permisi, mereka bertiga diskusi dan mencoba memberi pemahaman kepada orang tua yang tinggal satu-satunya. Ternyata cukup sulit. Akhirnya tiga kepala menelpon dua kepala di daerah yang berbeda, Ponirah dan Halimah.

Atas dasar hati nurani, Maisaroh melapangkan waktu untuk mengurus sendiri berkas yang harus mereka penuhi untuk kepentingan penjualan rumah.

Sudah seminggu dan Maisaroh kembali lagi untuk memastikan kesiapan berkas. Lelah seharian yang telah wanita itu lalui tadi, membuat tubuhnya letih. Namun begitu, semua sudah terselesaikan.

Mata sipit Maisaroh masih mendua dari bubur kacang hijau di depan saat tangannya mulai beranjak ingin menikmati bubur hangat di atas meja. Tidak sampai jemari itu menyentuh sendok di samping mangkok, gelap pekat membuat wanita itu mendengus kesal.

Kampret! Mati lampu!

 

***

 

Panas dengan debu dari berbagai kendaraan menemani perjalanan pulang. Rasanya lima hari berada di rumah Ponirah tidaklah cukup. Namun, urusan di sana untuk sementara telah usai, masih ada urusan lain yang tengah menanti mereka.

Waktu memang bergulir dengan cepat. Tinggal menghitung hari untuk Maisaroh dan anaknya bernaung di bawah rumah nyaman yang selama ini jadi tempat mereka pulang. Setelah itu? Dia tidak memikirkan apa-apa. Hanya pasrah bagaimana Tuhan membawa arah perjalanan hidupnya.

Ponsel Maisaroh berdering.

"Sore, Bu?"

"Sore."

"Jadi begini, Bu. Ada huruf yang salah pada nama Ponirah di salah satu berkas. Kesalahan nama sedkit saja bisa fatal. Ibu minta buat ulang lagi ke camat, bs, Bu? Kalau tidak, kita undur hari untuk tanda tangan. Tidak bisa besok."

Rahang Maisaroh mengeras, menahan geram yang hampir ke ubun-ubun.

"Mengapa tidak dari awal ibu kabari? Pagi tadi atau siang? 'Kan berkas sudah kami masukkan dari sepuluh hari yang lalu." Maisaroh berusaha berkata lembut.

Halimah mencoba mendengar dari belakang kemudi, sedangkan Ponirah terus melihat kakaknya dengan wajah ingin tahu.

"Ibu jangan ngomong begitu. Kami baru menangani berkas ibu. Yang biasa menangani berkas ini sedang sakit, jadi kami baru tahu kalau ada yang kurang dan salah."

Maisaroh memberi jeda untuk membiarkan segala penjelasan pengurus notaris di sana.

"Ibu buat ulang lagi atau minta surat keterangan dari kelurahan tempat Ibu Ponirah yang salah namanya tadi. Kalau tidak, kita undur ke hari senin saja."

Maisaroh menarik napas. "Maaf, Bu. Kami sudah separuh jalan untuk jadwal tanda tangan besok. Apa tidak bisa berkas yang salah itu menyusul saja, Bu?'

Ada kesunyian sekejap di seberang sana.

"Saya tanya dulu sama Sampeyan ya, Bu."

Telepon terputus. Maisaroh dicecar berbagai pertanyaan dari Ponirah dan Halimah.

 

***

 

Satu masalah selesai. Tempat tujuan tinggal tiga jam lagi. Seakan tidak ingin sepi dan merasa harus unjuk gigi, masalah baru muncul lagi. Bapak yang sudah dijemput lebih dulu oleh Suriyem dan Juminten, ternyata lupa membawa berkas asli. Muncung Ponirah mulai berkicau. Maisaroh hanya bisa mengutuk dalam hati.

Setidaknya, berkas yang akan dibenahi dan tertinggal masih bisa diupayakan sebelum sampai tujuan. Tuhan masih ingin menguji dan memudahkan rentetan kejadian sore menjelang malam itu.

Namun, tidak esok paginya. Halimah mengabarkan Maisaroh, kalau kartu tanda pengenal Bapak ternyata juga tertinggal. Sumpah serapah dari bibir Maisaroh akhirnya terucap juga.

"Kenapa pula tadi malam nggak diserahkan sekalian?" Nada suara wanita itu meninggi. Ingin sekali membanting ponsel yang sedang digenggamnya.

Pagi itu sudah pukul delapan lebih sedikit. Jadwal tanda tangan pukul sepuluh. Maisaroh tidak ingin menyia-nyiakan jadwal kerja Ponirah dan Halimah yang sudah mengambil cuti untuk hari yang mereka tunggu ini. Batinnya marah, kesal dan gundah sudah hampir mencapai ubun-ubun. Hanya karena kepandiran seseorang yang merasa pandai, semua hal yang sudah berjalan sesuai rencana dan prosedur, seketika buyar dan kembali terlihat kabur.

"Memaki nggak akan menyelesaikan masalah. Aku juga kesal karena kita sudah jauh-jauh kemari untuk hari ini." Halimah menenangkan batin kakaknya, walau sebenarnya batinnya pun gundah.

Maisaroh harus berpikir cepat. Waktu bergulir tanpa mau tahu urusan manusia yang tertimpa masalah. Akhirnya jasa dan bantuan dari pihak sepupu pun dikerahkan. Meminta langsung untuk diantar ke tempat tujuan.

Tibalah saat yang ditunggu. Pencairan tahap pertama dengan tanda tangan semua yang berkepentingan di sana. Lalu, setelah berbagai macam cengkunek, berkas-berkas disusun rapi di atas meja panjang. Kecuali tanda pengenal Bapak yang masih dalam perjalanan.

Jantung Maisaroh berdetak hebat juga wajah berubah pucat, isi dompet dan tas sudah dibongkar berkali-kali. Namun, giliran kartu tanda pengenalnya yang lari entah ke mana.

 

***

 

Senin itu tidak panas dan juga tidak mendung. Angin sepoi menemani dua insan yang sedang duduk di anak tangga di depan kantor notaris. Entah membicarakan tentang apa.

Maisaroh baru saja menyerahkan berkas yang menyusul kemarin. Urusan belum usai, masih ada pekerjaan yang paling wanita itu benci, mengemasi barang.

Sebulan lebih dua minggu adalah waktu yang diberikan untuk segera meratakan bangunan rumah. Sedangkan waktu lebih dari dua minggu bisa digunakan Maisaroh untuk menyicil pengemasan barang-barang yang ada. Namun, bukankah lebih cepat lebih baik? Hanya saja, kenangan yang dulu pernah ada di rumah itu belum mampu membuat dia bersikap sewajarnya. Masa kecil anak-anaknya, merawat sakit emaknya, kesusahan, senang, semua ada di rumah itu.

Di sisi lain, rasa untuk segera meninggalkan rumah dan kota itu semakin membuncah. Setidaknya, Tuhan ingin melihat prosesnya bukan hasil. Sehingga wanita itu tetap berusaha sabar menghadapi semua yang akan terjadi nantinya.

Benarkah?

 

***

 

Tubuh penat. Batin terlanjur lelah. Hampir seminggu Maisaroh melangsir barang ke tempat anaknya mulai bernaung. Tidak tanggung-tanggung, langsung menuju lantai dua.

Bayangkan dalam sehari turun naik tangga sebanyak sepuluh kali dengan memikul beban barang yang tidak ringan. Sampai-sampai terbersit di pikiran wanita itu, dia jatuh menggelinding dari atas karena kaki tersandung. 😂

Hingga ada hari di mana semua dimulai untuk mengakhiri lelah. Hari di mana semua pekerja datang untuk menghancurkan bangunan rumah. Ada insiden kecil antara Maisaroh dan anaknya. Lalu, wanita itu memilih menjauh dan mencari waktu berdiam diri untuk sementara. Mencari tahu, ke arah mana Tuhan ingin membawa hidup wanita itu selanjutnya.

Tidak ada hal yang mudah untuk dilakukan. Apalagi jika berkaitan dengan anak. Bagi Maisaroh, anak-anak adalah barang berharganya. Tuhan memberi mereka bukan tanpa sebab.

Lalu, sekarang, Maisaroh mulai nyaman menikmati hidupnya sendiri. Penat yang dirasakannya kemarin perlahan lenyap dan mulai senyap. Tinggal aktivitas biasa yang tertunda yang seharusnya dia lakoni, mengejar deadline tulisan.

 

* Terima kasihku yang tak terhingga untuk seseorang yang banyak sekali membantuku melewati semua gundah, my L 😘

Jumat, 12 Maret 2021

Tidak Sadar Diri

Semakin ke sini banyak sekali makhluk Tuhan yang tidak sadar akan dirinya. Terkadang wajah baik pun tidak bisa mencerminkan hati yang baik. Begitu juga sebaliknya.

Terlebih lagi, jika hati kotor, aura wajah dan perbuatan pun ikut terlihat kotor. Hati manusia siapa yang tahu.

 

***

 

Perhatikan di setiap persimpangan, beberapa kendaraan melaju tanpa perduli traffic light masih merah, dan dari arah yang berlawanan sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi agar bisa melewati warna hijau yang tinggal sekian detik.

Lalu, terjadilah hal yang diinginkan, eeeh, hal yang tidak diinginkan, dalam sekejap mata persimpangan sudah berserak alias bergelimpangan manusia dan kendaraan yang hancur bersatu dengan genangan berwarna merah.

Terjadi tuding-menuding ketika imbas dari kecelakaan itu menyebabkan beberapa kendaraan di belakangnya mulai semwarut.

Kemudian, siapa yang mau disalahkan?

 

***

 

Senin pagi yang cerah. Burung-burung berkicau mesra. Namun, kita tidak membicarakan burung di sini. Kita membicarakan seorang pria yang sedang duduk di teras menikmati pagi dengan secangkir teh yang masih mengepul asapnya, buku tebal yang sedang dibaca dan sebatang rokok yang tinggal setengah.

Terlihat sang istri mondar mandir layaknya setrikaan yang semakin panas. Matanya terlihat gusar dan terus-menerus melihat jam di dinding. Sudah pukul tujuh lewat seperempat. Namun, si suami masih duduk manis dengan rokok yang masih menyala dan mata tetap membaca.

"Mau jam berapa lagi perginya? Belum lagi ke pasar, masak, jam sepuluh harus sudah di ruangan darma wanita. Awak nih, bukan The Flash!"

"Oh, iya, iya." Pria itu mematikan api rokoknya dan berjalan tergopoh-gopoh.

Agaknya sang istri punya jadwal tersendiri juga, sehingga dengan terpaksa begitulah caranya menegur si suami.

Apalagi jadwal mengajar si suami sudah terpajang di dinding, di atas meja kerjanya. Hanya karena tempat kerja yang dekat dengan rumah, terkadang membuat si suami santai tanpa memikirkan waktu. Sering kali sang istri menegur secara halus maupun sindiran, namun, tetap saja hal itu terjadi.

"Dosen nggak apa-apa terlambat, asal jangan mahasiswanya."

Beugh! Peraturan darimana itu! Kalimat itulah jawaban pamungkas si suami bila sang istri mencoba menegur. Bagaimana mau maju pemikiran bangsa ini jika pendidiknya saja punya pemikiran seperti itu?

Kalau sudah begini, siapa yang mau disalahkan?

 

***

 

Volume speaker dari dalam mobil di depan rumah Bu Hana, milik tetangganya, terdengar riuh. Jendela kaca dan pintu di rumah wanita itu sampai bergetar akibat kehebatan speakernya. Apakah karena ingin memamerkan jenis musiknya ataukah kehebatan speaker itu, atau bisa juga ingin memamerkan kerajinannya dalam mencuci mobil? Entahlah. Bisa jadi, 'kan?

Bu Hana hanya mengintip dari dalam rumah sambil menghela napas.

Beberapa menit kemudian, anaknya mulai bersiap-siap berangkat kerja. Bu Hana sengaja ikut keluar rumah, menyapu teras dan tepat saat itu si pemilik mobil pergi. Halaman depan Bu Hana yang tidak berpagar dipenuhi sampah plastik, tisu dan botol air kemasan yang sudah kosong.

"Bang, entar kalau sudah punya mobil jangan sombong ya. Sediakan tempat sampah atau kumpulkan sampah-sampah dari dalam mobil ke satu wadah, bukan dibuang begitu saja di halaman orang. Padahal, tempat sampah bukan jauh."

Anak lajang wanita itu hanya tersenyum. Pemuda itu tahu, ibunya sedang menyindir.

Lalu, tibalah saat rumah tetangga Bu Hana terjual. Mereka pindah tidak jauh dari sana. Entah suatu kebetulan atau bagaimana Tuhan punya kuasa, mereka bertetangga dengan sepupu Bu Hana. Dalam sebulan Bu Hana sudah beberapa kali menerima pengaduan sang sepupu. Ternyata mereka sering ribut karena masalah sampah.

"Cobalah kakak pikir. Tiap pagi puntung rokok, kotaknya dan entah apa lagi, berseeerak di depan halaman. Heh! Ini halaman bersama. Tolong sama-sama menjaga."

Bu Hana hanya tersenyum mendengar sepupunya mengomel melalui ponsel. Wanita itu tidak habis pikir, di mana pun seseorang berada, jika memang sudah buruk tabiatnya dan tidak mau berubah, sampai kapan pun susah juga ujung-ujungnya.

Beruntunglah dulu kalian bertetangga denganku, yang memaklumi segala perbuatan kalian, pikiran Bu Hana kembali sejenak ke masa-masa tidak enak itu.

Kalau sudah begini, apa bisa dikatakan tidak tahu diri? Bagaimana bisa untuk hal sesimple itu, seseorang tidak sadar akan perbuatannya?

 

***

 

Sudah pukul satu lebih lima belas menit. Panas terik membuat wanita muda itu mundur sedikit di balik bayangan gedung. Sesekali tali tas ranselnya dia mainkan. Membuang jenuh dan letih menunggu.

Akhirnya setelah setengah jam kemudian, si pemuda yang ditunggu datang dengan senyum semanis mungkin.

"Maaf, Dek. Tadi ada bahan tambahan untuk ujian minggu depan. Lalu, simpang di depan Mentel Plaza macetnya bukan main."

"Sudah! Langsung saja kita ke sana." Wanita itu mulai bergegas. Dia semakin malas meladeni omongan pacar salah kaprah di depannya itu.

Sepanjang jalan wanita muda itu sibuk memikirkan cara bagaimana bisa putus dengan pemuda yang berjalan di sampingnya. Bukan karena tidak sayang lagi, akan tetapi dari awal memang tidak punya perasaan.

Jahat? Bisa jadi. 😂

Mungkin karena si pemuda kuliah di jurusan paling bonafit, meriksa-meriksa orang sakit nantinya setelah tamat, sehingga wanita muda itu menerima saja curahan hati si pemuda. Biar terlihat keren, atau bisa saja karena terpaksa, daripada tidak ada pacar. Who knows, 'kan?

Hanya saja, banyak hal yang membuat wanita muda itu semakin acuh terhadap pacar salah kaprahnya ini. Seperti saat ini, mereka janji bertemu di dekat kampus wanita muda itu, dikarenakan dekat tempat tujuan mereka kencan.

"Dek. Kiriman abang sudah datang. Sekali-sekali abang yang traktir makan, masak kamu saja yang traktir abang. Besok kita ke Genit Plaza ya. Kamu tunggu di depan gedung kampusmu saja."

Itu percakapan mereka dua hari yang lalu dan paling absurd yang wanita muda itu dengar selama delapan bulan mereka pacaran atau selama wanita muda itu hidup di dunia ini. Begitulah. Ingin tertawa, tetapi takut muntah. Ingin memaki, nanti disumpahi cepat mati. Karena itu, dia memilih diam dan mengikuti saja apa yang dikatakan pemuda itu.

Beberapa menit setelah parade jalan cepat di bawah terik matahari, mereka duduk sebentar di meja paling pojok sebelum memesan menu. Lalu, si pemuda bertanya tentang pesanan kekasih tercintanya yang begitu manis meski tanpa senyuman.

Setengah jam berlalu. Entah salah di mana, saat itu tempat makan yang mereka kunjungi sangat ramai setelah mereka duduk di sana. Wanita muda itu melihat pacar salah kaprahnya sedikit berlari ke arahnya.

Di mana pesanannya? Mengapa Si Tolol ini nggak membawa baki berisi pesanan mereka? Wanita itu tampak bingung.

"Dek, uang abang kurang. Bisa tolong ditambahi?"

Lalu, beberapa minggu kemudian, karena suatu hal, mereka akhirnya resmi putus. Hmmm? Siapa yang memutuskan hubungan? Tanya saja sama Si Tolol itu.

 

***

 

Sambil menyelam, minum air. Itu hanya pepatah. Sama juga seperti, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Ibaratnya, segala sesuatu itu dikerjakan dalam satu waktu sekaligus.

Akan tetapi, kita bukan belajar bahasa indonesia, kita sedang melihat sepak terjang seseorang yang tidak penting, tidak terkenal dan tidak tahu siapa dia.

Sebut saja dia Mawar. Mawar suka membantu orang. Dia tidak punya apa-apa dari segi materi, tetapi untuk jasa, wanita itu tidak bisa dipandang sebelah mata. Langkahnya ringan jika untuk sebuah kebaikan.

Suatu hari, entah hari apa, mendung sudah terlihat di ujung langit sana. Balita adik ipar Mawar sakit. Sebut saja istri adik ipar Mawar itu Melati. Suami Melati sedang dinas di luar kota. Melati kelimpungan. Karena Mawar tidak punya mobil, mereka berkendara motor ke rumah sakit. Bukan rumah sakit terdekat, namun, rumah sakit bonafit pilihan kantor suami Melati. Lumayan jauh untuk ukuran langit mendung yang sewaktu-waktu airnya akan tumpah.

Setelah sejam Mawar menunggu Melati memeriksakan balitanya, ternyata obat yang akan ditebus tidak semuanya ada di apotik rumah sakit. Namun, mendung sudah di atas langit gedung rumah sakit. Melati menatap bingung ke arah parkiran.

"Kalian naik taxi saja ke rumah gadang. Entar kakak nyusul." Seakan mengerti akan risau hati Melati, Mawar memberi solusi.

"Obatnya?"

"Nanti kakak cari di apotik yang kakak lewati."

"Kalau begitu, Kak, sekalian titip gorengan ya. Enak nih, makan hujan-hujan begini."

"Insyaa Allah. Kakak usahakan."

Lalu, mereka berpisah di sana. Mawar segera melesat pergi sebelum hujan benar-benar turun. Di tengah jalan, tepat setelah obat dan gorengan sudah dibeli, hujan turun selebat-lebatnya. Bahkan mantel hujan Mawar saja kalah dengan derasnya hujan sehingga baju dan dalaman Mawar basah semua.

Sebelumnya, setelah keluar dari parkiran rumah sakit, Mawar tidak langsung pergi ke apotik. Jam pulang sekolah anak lajangnya yang kedua sudah lewat setengah jam yang lalu. Wanita itu menjemput dulu ke sekolah. Sedangkan anak lajangnya yang pertama kemungkinan sudah sampai di rumah, karena baik sekolahnya maupun rumah mereka, tidak terlalu jauh.

Terlanjur basah, ya sudah, mandi sekali. Begitu kata pepatah. Setidaknya, tas sekolah anak Mawar sudah diselamatkan terlebih dahulu. Mereka menerobos hujan sambil tertawa. Sesekali Mawar berteriak ketika petir dan gledek menggelegar menemani perjalanan eksotis mereka.

Hampir sejam, Mawar akhirnya tiba di rumah mertua dan terlihat Melati sudah aman di sana.

Mawar tidak ingin berlama-lama. Hanya mengantar obat dan gorengan lalu pulang.

"Kenapa lama sekali? Tidak lihat wajah Rehan semakin pucat. Seharusnya antar dulu obatnya baru jemput anakmu."

Mawar yang masih berdiri di depan teras terdiam ketika mertuanya merebut obat dari tangan dingin yang bergetar. Lalu, terlihat olehnya, Melati yang hanya diam sambil menggendong Rehan.

Anak lajang Mawar yang sedari tadi berada di belakang wanita itu, langsung melempar bungkusan gorengan ke punggung neneknya. Wajah pemuda itu merah padam dan langsung menarik tangan ibunya untuk segera menjauh dan pergi dari sana secepat mungkin.

Bagaimana pun, dia yang tahu persis atas apa yang sudah dilakukan oleh ibunya. Lalu, atas dasar apa, seorang nenek tua renta peyot, membentak ibunya? Kemudian, wanita tidak tahu diri di dalam sana hanya diam tanpa memberi penjelasan sedikit pun.

 

***

 

Hhhh! Masih banyak, sih, yang ingin kutulis. Tapi, terkadang ada beberapa yang biasa terjadi di depan mata atau lingkungan kita sendiri.

Pernahkah kalian mengalami fase atau menemukan manusia-manusia seperti di atas?

Atau, pernahkah kalian menemukan bahkan mengalami hal-hal yang di luar hati nurani?

Atau, kaliankah orang-orang dengan hati nurani mati?

Hmmm. Bisa jadi. 😂

Karena itu, sebaiknya kita sadar akan siapa diri kita, untuk apa dan untuk siapa kita hidup. Ke arah mana nantinya perjalanan hidup kita. Coba dipikirkan baik-baik.

 

View by google

Sabtu, 06 Februari 2021

Pusatkan Pikiran

Bagaimana caranya agar terus fokus dan pikiran tidak lari kemana-mana?

Begini...

Hmmmm.

Hmmmm.

Hmmmm.

Hmmmm.

Hmmmm.

Hmmmm.

Hmmmm.

Hmmmm.

Hmmmm.

 

Selamat! Anda sudah fokus. Fokus menunggu! 😂

Baiklah. Terima kasih sudah menunggu. Sekarang, mari kita masuk ke sesi berikutnya. Silahkan pasang sabuk karate anda! Cekidot, yuuuk....

 

***

 

Louis menguap lebar-lebar. Sudah pukul sebelas lebih sepuluh menit. Rasanya waktu berjalan sangat lambat. Ataukah jalanan ini yang terlihat semakin panjang? Entahlah.

Aku terlalu baik. Harusnya tidak usah kuterima tugas dari Pak Genta tadi. Akhirnya, di sinilah aku, masih di tengah jalan di tengah malam buta.

Lebih menyebalkannya lagi, lampu jalanan tidak ada yang menyala sepanjang pria itu berkendara. Matanya sesekali melihat spion tengah demi memastikan ada pengendara lain selain dirinya. Kosong. Tumben-tumbenan juga jalanan kosong.

Louis menghela napas panjang. Masih ada tiga lampu merah lagi untuk sampai di rumahnya. Di setiap lampu merah, ada saja hal yang tidak enak untuk dilihat. Seperti kali ini, seorang anak kecil, kira-kira berumur sebelas tahun, mengetuk kaca mobil dengan wajah memelas.

Louis membuka setengah kaca di samping kanan hingga terlihat mata bundar dan pipi cekung si empunya wajah.

"Pulang sana. Sudah malam, jangan berkeliaran."

"Paling tidak, sampai lampu merah berikutnya, Om." Wajah hitam legam itu memelas.

"Lain kali."

Louis hampir menutup kaca, ketika wajah memelas itu menahannya dan berkata, "Kakak itu kenapa boleh menumpang?"

Louis melihat spion tengah lalu menoleh ke belakang. "Turun!" Matanya tajam melotot.

Perempuan berambut panjang dan berwajah pucat itu merengut, kemudian perlahan turun menembus pintu.

Sebelum mendengar mereka berdua ribut adu mulut, Louis menyetel musik dan menekan gas, lalu sesegera mungkin meninggalkan tempat itu. Dasar, setan! Bikin nggak fokus saja!

 

***

 

Ariq ketiduran. Padahal besok deadline tugas dari Pak Sitepu. Ini karena ba'da maghrib tadi temannya datang dan mereka nongki di cafe terdekat sampai pukul sepuluh. Mau tak mau beberapa jam ke depan seluruh tugas harus sudah selesai.

Setelah melakukan panggilan malam sekejap, pemuda itu membuka layar laptop, meletakan beberapa cemilan, memakai earphone, menyetel musiknya dan mulai fokus menatap ke depan.

Pukul dua lewat dini hari, hanya terdengar cetak-cetik dari tuts keaboard. Pemuda itu benar-benar berkonsentrasi penuh. Kain gorden yang sedikit demi sedikit tersibak pun tidak dia sadari. Bahkan seraut wajah yang berkali-kali mengintip pun tidak pemuda itu hiraukan. Hingga wajah itu merasa gemas dan mulai berani menampakkan wajah utuhnya.

"Nggak usah kau nyengir di situ. Tahu aku, kau cari-cari perhatian dari tadi. Sudahlah jelek, pesek, pendek, eneg aku lihatnya. Sana! Hilang konsentrasi aku gara-gara kau!"

Wajah itu berubah melankolis dan dengan langkah gontai berjalan menunduk menuju sudut gazebo.

 

***

 

Mauri duduk selonjoran menatap layar televisi. Hari ini anak-anaknya pulang sore karena ada urusan di kampus. Katanya, sih. Jadi, ibu centil ini pun menghabiskan waktunya dengan menonton lima episode terakhir dorama jepang.

Hal-hal yang ditampilkan di sana begitu mengundang emosional. Wanita itu sampai mengambil posisi jongkok meringkuk di atas sofa. Tangan terlipat di atas lutut. Cemilan mulai enggan disentuh. Bahkan sekotak tisu mulai teronggok di sampingnya.

Dua orang bocah dan kakak berambut panjang berlari di depannya. Mereka tertawa cekikikan. Hingga tiga episode terakhir, mereka masih berlarian di seputar televisi dan di sekitar sofa.

Mauri menghela napas panjang, mengambil remote dan menekan tombol pause. Wanita itu mulai ikut berlarian dan ketika sudah tepat di belakang kakak berambut panjang, Mauri menarik paksa rambut itu.

"Aaaaaaargh!" Jeritannya melengking sampai membuat kedua bocah berkepala plontos itu lari terkencing-kencing.

Mauri mengambil gunting dari laci buffet sambil terus menarik rambut si kakak hingga mencapai pintu teras samping.

"Ampuuuuunnn!"

Mauri tidak perduli dengan ratapan dan mata memelasnya. Dengan perasaan tidak sabar, Mauri membabat habis rambut panjang itu.

"Naaah! Bawa itu." Wanita itu memberi rambut hasil tebasannya kepada si kakak yang menangis pilu. "Jangan nangis! Nanti juga tumbuh lagi. Makanya jangan reseh. Orang lagi fokus nonton malah diganggu."

Si kakak melayang menuju pohon mangga tetangga dan menangis di sana.

 

***

 

Masih hujan rintik-rintik ketika Rizqi pulang dari wakuncar, waktu kunjung pacar. Untuk menghemat waktu dan berharap segera sampai di rumah, pemuda itu melewati kawasan penghijauan. Pohon tua di tengah badan jalan maupun kiri kanannya membuat lampu jalan minim penerangan. Suasananya jelas berbeda ketika melewatinya siang hari.

Beberapa masih buka warung-warung bandrek, kopi atau pun warung mie aceh di sepanjang sisi jalan. Hujan membuat tempat-tempat tersebut semakin ramai.

Angin yang berhembus sedikit kencang tidak membuat laju kendaraan pemuda itu berkurang. Hingga melewati perlintasan jalur kereta api, suasana mulai sunyi. Tidak ada toko atau warung karena sudah mulai memasuki kawasan rumah penduduk. Lampu jalanan banyak tertutupi oleh dahan-dahan pohon yang rimbun.

Badan jalan mulai bergelombang. Kawasan ini agak buruk untuk urusan pembuangan air alias parit. Sehingga bila hujan datang, badan jalan sampai tergenang air satu sampai dua jam lebih.

Rizqi mengurangi laju kendaraan dan terkadang berjalan zig-zag guna menghindari lubang atau cekungan. Dari samping kiri ada sesuatu berkain putih yang ikut bergerak zig-zag ibarat menari poco-poco. Kendaraan pemuda itu hampir oleng. Dengan kesal dia menendang sekuat tenaga kain putih yang melayang di samping kirinya hingga mendarat selamat masuk ke got.

Aduuuh!! Karena tangannya terikat, si abang cuma bisa pasrah dengan posisi nungging. Tolongin dong, Baaang. Tega beneeer.

Siapa suruh ganggu konsentrasi orang! Rizqi terus melajukan kendaraannya setelah melewati beberapa lubang.

 

***

 

Mata Hana menatap papan tulis di depan dan kemudian langsung menunduk, menulis apa yang tertera di sana. Kelas telah sepi, sudah bubar lima belas menit yang lalu. Yang lain tidak ada yang mau mencatat, semua ikutan bubar ketika mata kuliah langsung selesai. Alasannya, nanti bisa minta fotocopy ke dosennya langsung.

Hhhh. Hana menghela napas panjang. Daripada mengeluarkan uang lagi, mending wanita itu mencatatnya, mumpung dia sedang ada waktu luang.

Suasana semakin sepi. Wanita itu melihat layar ponsel. Masih pukul tiga sore. Kembali matanya menatap papan di depan dan mulai menulis.

Dari ruang sebelah terdengar suara riuh kursi yang digeser. Pintu terbuka dan suara tapak yang penuh beradu cepat di lantai.

Melalui ekor mata Hana, tidak terlihat siapa pun yang melintas di koridor. Aneh. Namun, wanita itu masih terus menulis.

Tiba-tiba ada angin semilir menyibak hijab Hana. Wanita itu menoleh ke arah pintu keluar, lalu melihat jendela. Tidak ada yang terbuka dan ruangan ini berada di lantai dua.

Gubrak!!!

Ada sesuatu yang jatuh di dekat meja dosen di depannya. Tapi apa?

Perasaan Hana mulai tidak enak. Konsentrasinya juga mulai hilang. Buru-buru dia berkemas. Dan...

Dia sudah berdiri di kamarnya sendiri.

 

***

 

Rumput di sekitar tanaman melati baru saja selesai Camelia bersihkan ketika ada bunyi nyaring dari ponsel di saku cardigannya.

"Assalamualaikum."

"Dia sudah tahu."

"Siapa dia? Tahu apa?"

"Bang Lintang sudah tahu kakak masih hidup dan juga tahu keberadaan kakak."

"Dari siapa?" Ada kecemasan di wajah Camelia.

"Ng, itu, anu, nggak sengaja bang Deri ketemu dengan bang Lintang. Bang Deri keceplosan cerita."

Camelia menahan napas.

"Katanya, bang Lintang sudah dalam perjalanan ke tempat kakak."

"Hah?!" Camelia berdiri dan menjatuhkan ponsel, lalu segera dipungutnya kembali. "A-a-apa? Ng, sudah sampai mana?"

"Mana tahu. Katanya, naik motor gedenya abang itu pergi."

"Yakin?" Camelia seperti tersengat listrik. Pikirannya tidak fokus lagi. Bingung apa yang akan dia lakukan.

"Kenapa? Kakak mau pergi lagi?"

Camelia terdiam. "Pergi ke mana?"

"Manalah Dina tahu." Ada suara tertawa di seberang sana. "Sudahlah. Tunggu saja dulu. Bicarakan baik-baik. Terus jadikan rencananya. Biar Dina siap-siap juga untuk acara yang akan dibuat. Ohohoho."

Camelia mematikan ponselnya. Pikirannya sedang bingung malah dijadikan lelucon oleh sang adik.

Sudah setahun lebih wanita itu melarikan diri dari Lintang. Mencoba melupakan semuanya. Namun, kini semua berkelebat lagi di dalam pikirannya. Membayangkan wajah pria itu sudah seperti apa? Bagaimana reaksi Camelia jika nanti pria itu berdiri di depannya? Ah, jangan-jangan pria itu datang sambil marah-marah karena dibohongi? Atau pura-pura pergi saja dulu, entah ke pasar atau bertandang ke rumah tetangga?

"Maaaa!"

Camelia gelagapan mendengar teriakan anak lajangnya. "Eh, apa?"

"Dari tadi dipanggil-panggil, capek sudah teriak-teriak. Ada yang nyariin, tuh?"

Hah?! Apa?! Nggak mungkin secepat itu? Camelia gemetar dan wajahnya seperti orang linglung. Tangannya menggenggam erat lengan pemuda di sampingnya.

"Ma? Kenapa? Gemetar sampai keringatan gitu. Sakit?"

Camelia menggeleng. "Siapa yang datang, Dek?"

Ayolah! Fokus! Fokus! Fokus! Sampai dikira pesakitan oleh anakmu!

"Itu, pengunjung cafe. Mau beli tanaman mama."

Camelia langsung berdiri tegak dan melotot. "Kenapa nggak bilang dari tadi." Wanita itu berjalan cepat menuju belakang cafe.

Wajah anaknya langsung berubah kuyu. 'Kan tadi sudah dibilang, tapi nggak dengar.

 

 

_____

Minggu, 31 Januari 2021

Kandas? Benarkah?

Masih membual tentang judul ini. Berharap tidak seperti yang tertera. Berharap masih baik-baik saja. Karena, masih dari satu sisi yang bercerita. Tidak tahu dari sisi sebelah sana.

Membuat tulisan ini agak sedikit berat dan penuh air mata. Mencoba merasakan dan ternyata telah terjadi begitu saja, rasanya seperti ada beribu jarum yang menusuk agar segalanya tersadarkan dan berjalan kembali ke sedia kala.

Tidak mudah. Namun, harapan pasti tetap ada. 'Kan, hanya Allah yang Maha Kuasa. Kita tinggal mengikuti arahanNya.

Sudah ya, kita langsung ajah....

 

***

 

"Kalau Diah kuberi tahu yang sesungguhnya dan dia memintaku untuk menjauhi serta meninggalkanmu, aku bisa apa? Aku pun terpaksa mundur."

Mauri tertohok, mata hatinya terbuka lebar setelah mendengar kalimat itu. Barangkali inilah saatnya, sesuatu yang memang seharusnya dari awal tidak dijalani. Namun, sebisa mungkin disimpannya rasa pedih itu. Dekapannya semakin dieratkan. Memastikan ini terakhir dia memeluk pria yang dicintainya. Lalu, bibir mereka bertemu. Ini juga untuk yang terakhir kali.

 

***

 

Mauri meringkuk, menangis tanpa henti karena mengingat kejadian siang tadi dan kata-kata yang terucap langsung dari mulut kekasihnya.

"Hanya ingin tahu, yang mana, yang memang pantas untuk diperjuangkan."

Itu juga kata-kata kekasihnya dulu, jauh sebelum mereka memulai hubungan. Lalu, sekarang? Apa lagi yang pantas untuk diperjuangkan? Mauri merasa dirinya rendah dan menjijikan. Wanita itu kecewa terhadap dirinya sendiri. Tidak seharusnya dia memiliki perasaan khusus terhadap lelaki yang telah beristri. Namun, dia tidak berdaya.

Dia selalu bertanya kepada Penciptanya, mengapa dia harus memiliki perasaan ini? Mengapa perasaan ini tertuju untuk seseorang yang tidak dia duga? Apa yang mau Tuhan tunjukkan padanya? Dari awal sampai saat ini, hanya pertanyaan-pertanyaan itu yang dia tujukan setiap sujud bersimpuh di tengah malam.

 

***

 

Mauri berlari sambil menangis. Genta mengejar dan memeluknya dari belakang.

"Aku nggak bermaksud mengatakan hal itu. Aku nggak mau ada salah paham di antara kalian jika kukatakan apa yang terjadi di antara kita."

"Bacot!" Suara itu berdenging di telinga Mauri. "Katakan itu padanya. 'Bacot kau!'."

Mauri menoleh dan melihat ke samping. Tangan adiknya, Hana, sedang menggenggam tangannya erat. Membawa wanita itu berlari dari kejaran Genta.

"Kalau perasaannya kuat dan tulus pada Kakak, bukan kata-kata itu yang dia lontarkan. Dia pasti akan memperjuangkan Kakak walau istrinya mengatakan ini itu. Dia pasti memberi pengertian kepada istrinya, bahwa Kakak adalah perempuan terbaik yang dia kenal setelah istrinya."

Mauri mengusap air matanya sambil menoleh ke belakang. Genta berteriak memanggil namanya.

"Sudahlah! Akhiri." Hana masih berdiri di sampingnya. "Jangan dipertahankan lagi. Itu lebih baik. Jangan rendahkan lagi dirimu, Kak."

 

Mauri terbangun karena mendengar azan Subuh. Jantungnya berdebar dan air mata sudah membasahi permukaan bantal. Mimpi tadi seperti sangat nyata baginya. Hentakkan tangan Hana yang keras di mimpi membuat pikirannya melanglang buana.

 

***

 

Senin pagi ini, wanita itu berencana mengunjungi mantri yang tidak jauh dari rumahnya. Sudah seminggu anemianya kumat. Wajah hampir seperti mayat. Syukur Mauri memiliki anak lelaki yang tidak banyak protes ini dan itu.

Setelah hujan sedikit reda, Mauri diantar anaknya menuju mantri. Tidak lama sebenarnya, namun, hujan turun lagi dan memaksa wanita itu duduk menunggu reda, sambil bercerita macam-macam hal dengan pak mantri.

Dari penuturan tetangga Mauri, pak mantri sepertinya memiliki ilmu batin. Benar saja, pak mantri menyiratkan sedikit sisi kehidupan Mauri. Wanita itu senang ketika mereka bercerita tentang hidup dan kehidupan juga tentang Pencipta.

"Tuhan, tuh, sayang sama kamu. Coba, kamu juga sayang sama diri kamu. Jangan banyak pikiran, lepaskan saja semuanya. Balikkan, semua memang sudah diatur oleh Tuhan."

Mauri tersenyum. Matanya sedikit berkaca-kaca. Hampir saja bendungannya pecah sampai terdengar suara pasien berikutnya.

 

***

 

Tidak banyak yang dilihat. Suasana mall juga masih lengang dengan pengunjungnya. Mauri merasa sedikit lelah. Baru dua hari wanita itu mengkonsumsi obatnya. Kondisinya belum memungkinkan untuk banyak berjalan.

Tadi pagi dua saudarinya mengajak bertemu untuk menghibur dan sejenak melupakan, begitu kata mereka di chat tadi. Walau enggan, tapi diturutinya juga permintaan mereka. Mauri malas mendengar petuah dan segala macam nasehat dari mereka. Karena itu, dari pada banyak cerita, dia ikut saja.

Mereka mulai duduk di tempat makan yang sedang ada promo. Maklumlah, ibu-ibu, asyiknya selalu dengan sesuatu yang berbau diskon. 😂

"Gimana perasaan Kakak?" Tiba-tiba saja Hana berganti topik pembicaraan.

"Hah? Perasaan apa?" Mauri pura-pura bodoh.

"Sama bang Genta."

Mauri sengaja tidak menjawab. Bagaimana pun, perasaan itu tidak mudah untuk dihilangkan.

"Kalau istrinya terima, Alhamdulillah, dan kalian nikah."

"Oiii!"

Hana tertawa. Sebenarnya dia sangat kecewa, kakaknya ada perasaan khusus terhadap Genta. Apalagi, sepertinya Genta tidak bertanggung jawab terhadap perasaan kakaknya. "Paling nggak, katakan sejujurnya kalau dia mencintai Kakak dan kalian sama, saling mencintai. Bukan Kakak saja yang mencintai dia. Bego namanya. Itu sama saja merendahkan Kakak di mata istrinya. Kecuali abang itu mau cari aman. Sudahlah tuh, nggak gentle. Buang!"

"Heehhh!" Mauri mencubit lengan adiknya.

"Sudah. Biar dulu kak Mauri menikmati masa sendirinya. Jangan nanti kayak aku. Sudah terlanjur." Tati mulai memancing pembicaraan ke arah yang lain.

Hana pun mulai kepo.

 

***

 

Genta memeluk Mauri dari belakang. Lelaki itu menangis cukup lama. Mauri merasa bersalah. Wanita itu dari awal memang tidak ingin menyulitkannya. Rasa sakit karena perasaan yang sangat dalam ini bukan maunya.

Lalu, tiba-tiba Mauri duduk sendiri dengan latar yang aneh, tidak biasa. Agak sedikit buram. Apa mungkin karena air mata atau lelah di pandangan mata Mauri? Semakin mencoba semakin terlihat buram.

Seseorang yang bersahabat memegang tangan Mauri, memeluknya erat.

"Sudah kukatakan padamu dari awal. Dia tidak baik untukmu. Kalau dia menghargaimu dan benar-benar mencintaimu dengan tulus, dia akan katakan kepada istrinya untuk memintamu menjadi istri keduanya dengan baik-baik. Itu lebih mulia dari pada dia sembunyikan dari istrinya dan diam-diam menjalin hubungan denganmu."

Mauri menutupi wajah dengan telapak tangannya. Dadanya semakin sesak.

"Aku nggak bilang untuk meninggalkan dia. Perasaanmu itu masih ada. Dipaksa juga percuma. Ayo, sama-sama kita memperbaiki diri kita. Insyaa Allah semuanya bisa kembali lagi ke awal. Tersenyumlah, jangan menangis terus."

 

Mauri terbangun dengan wajah yang basah. Entah perasaan yang bagaimana sehingga mimpi-mimpi itu terus ada di setiap galau hatinya. Kali ini, Yanti, temannya ikut tertuang di dalam mimpi. Paling tidak, perkataannya itu hanya di dalam mimpi. Karena Mauri tahu, jika dia bicarakan langsung lewat chat dengannya, yang ada hanya kekesalan saja. Yanti kesal, seperti apa pun setiap ungkapannya, Mauri tetap akan membela Genta.

Ah! Dia semakin merindukan Genta.

 

***

 

"Kau pernah berdoa agar didekatkan dengan yang baik, namun, ternyata dia menjauh, lantas apa yang harus kau sesali?"

Mauri menangis di ujung sana. "Kenapa sesakit ini mencintai seseorang?"

Aku terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Wanita di ujung sana sedang berjuang melawan perasaannya. Tidak disangka kata-kata dari lelaki itu begitu menyakitkan dan membuatnya hancur. Dia mulai pasrah. Namun, sepertinya, dia tidak sanggup untuk menghadapi semua.

"Kalau dia sudah mengatakan itu padamu, saranku, jangan terlalu berharap kepadanya, sebab, orang yang benar-benar menginginkanmu takkan mau membiarkanmu hidup tanpa kejelasan."

Mauri masih menangis. Sambil terisak, dia mengatakan, "aku hanya ingin dia pertahankan aku. Karena, dia sudah kutanam dalam lubang di hatiku paling dalam."

Kembali aku terdiam, ikut merasakan kepedihan yang mendalam darinya. Lelaki ini sepertinya tidak punya nyali, namun, tidak perlu kukatakan kepada Mauri. "Jika dia memiliki perasaan yang sama denganmu, tentu dia nggak bakal mengatakan itu padamu. Pasti saat ini dia juga sama menderitanya sepertimu."

Aku benar-benar tidak ingin menyudutkannya. Mauri rapuh saat ini. Dia berhak bahagia, namun, aku bingung tidak tahu harus bagaimana.

"Ayo, Mbak. Sudah mulai kumpul mereka semua."

"Ooh, iya. Sebentar." Aku memberi kode kepada mbak Tatik, teman sesama literasi.

"Maaf ya, jadi mengganggu waktumu. Terima kasih sudah mendengar keluh kesahku."

"Kembali kasih. Nggak apa-apa, Mauri. Nanti kita sambung lagi."

"Iya. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam." Aku menutup layar ponsel dan bergabung dengan yang lain.

"Siapa tadi, Mbak? Kok serius sekali." Mbak Tatik menggandeng lenganku.

"Teman. Sedang di kondisi rapuh."

"Wah! Itu bisa dijadikan ide tulisan."

"Iya. Memang. Sudah kutuangkan dalam tulisan. I hope, mereka bisa lebih terbuka dan bisa bersama seperti yang telah didoakan."

"Aamiin ya Rabbal'alamiin."

 

 

 

--------------->>>>>>>>

 

 

Tretetet tet tet tet tet tet tet teeeet. Eits! Tidak berhenti sampai di situ lho. Ternyata si Mauri kepikirannya sampai buat dia drop kayak gitu. Aku jadi ngenes. Tapi cerita Genta juga di luar perkiraan Mauri, Hana, terlebih lagi aku sendiri. Tidak tahu bijimana skenario Yang Maha Kuasa yaaa, yuk laaaa...

 

***

 

Merasa puas menghancurkan diri sendiri dengan menangis semalaman, Mauri yang masih dalam keadaan lemah mencoba bangkit. Wanita itu mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa semua pasti akan baik-baik saja seperti semula. Hingga saat Genta datang dan sudah berdiri di depan rumah, Mauri berusaha dan mencoba untuk bersikap biasa saja.

Namun, bendungan pecah. Genta tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti yang sudah diduga, mereka perlu lebih terbuka terhadap perasaannya masing-masing.

"Mengapa bisa berpikir tentang sesuatu yang tidak dipertahankan?" Genta memeluk Mauri erat. Tangis wanita itu malah semakin deras, menangis dalam diam. Isaknya begitu pilu.

"Kamu sangat berharga bagiku. Bagaimana mungkin tidak kupertahankan? Aku malah harus lebih keras lagi berjuang untuk mendapatkanmu. Karena itu, mari sama-sama kita minta ke Tuhan, agar aku pun merasa pantas mendapatkanmu dan agar aku diberi kemudahan untuk meyakinkan istriku. Yah?" Genta menyentuh dagu Mauri dan mengecup keningnya.

Mauri tidak berkata apa pun. Isaknya masih terdengar, walau sudah sedikit reda.

Bagaimana pun, Genta tidak ingin kehilangan Mauri. Karena pria itu tahu, wanita di hadapannya ini pasti sangat mencintainya. Dia berusaha meyakinkan wanita itu, bahwa perkataannya kemarin bukan bermaksud untuk melepaskannya, pria itu juga ingin meyakinkan dirinya sendiri, berharap Tuhan berbaik hati pada niat dan harapannya.

Mauri akhirnya membalas pelukan Genta. Menangis kembali di bahu bidangnya.

Genta mengelus pundak Mauri lembut, lalu berbisik, "tunggu aku. Insyaa Allah dengan ijin Tuhan, aku bisa segera menjemputmu. Jangan lagi berpikir macam-macam, yah? Posisimu bukan merebutku dari siapa pun. Tuhan mendatangkanmu padaku dengan cara-Nya."


>>>>>>>


Beberapa bulan kemudian, suasana riuh terjadi di kediaman Mauri. Tidak tergambarkan kebahagiaan yang terlihat di setiap wajah-wajah. 

Di sisi lain, Genta sedikit gugup dengan setelan jas yang tidak biasa dia pakai. Diah tersenyum manis di sampingnya. Kendaraan terus melaju menuju kediaman Mauri. Deru mesinnya beriringan dengan detik-detik waktu yang terus maju. 

Kembali ke kediaman Mauri. Ada kepanikan di empat wajah saudari wanita itu. Mereka bingung harus bagaimana. Menatap kertas dengan tulisan tangan Mauri di atas meja toilet. Isinya, dia takut untuk menikah lagi dan mulai berkomitmen. Wanita itu pergi entah ke mana.


Whaaaattt!! 😲

 

 

____


View by ig:@kajianislam

Dirajai Kepenatan

  Bubur kacang hijau di atas meja hanya dipandangi dengan lesu. Wajah M aisaroh tampak pucat seperti mayat. Pikirannya tidak di sana. Ke...