Sabtu, 23 Oktober 2021

Mendongeng 10 Hari

Ini lanjutan dari menulis dengan pikiran malas. Setidaknya begitulah yang terjadi. Selain mepet waktu dan lagi banyak-banyaknya kerjaan, aku ikut event ini karena satu alasan ajah, terus mengasah kemampuan menulisku!

Kadang-kadang banyak waktu senggang malah membuat pikiran mandek dan kosong ide. Tetiba mepet waktu, banyak ide seliwiran di kepala bahkan di depan mata.

Kenapa begitu?

Meneketehek!

Baiklah! Mengurangi bacot, bagusnya kita lanjut saja. Apa-apa saja, nih, tulisan di hari selanjutnya yaa? Yuk ah, melipir ....

 

 

Hari Ke-6

 



PELIHARAAN

 

"Huii! Lagi ngapain, Buk?"

"Biasalah, Buk."

"Waah, panen piaraan ya." Si ibu tetangga tersenyum.

"Piaraan pula!" Si anak tersinggung.

"Makanya, sering kau keramas. Jadi nggak banyak kali piaraan kau." Si Emak malah makin menyinggung.

 

 

Hari Ke-7

 



KOPER MISTERIUS

 

"Apa itu?"

"Sudah lama di situ, tapi kok nggak ada yang tahu."

"Langsung dibuka saja, Pak. Tidak usah menunggu kepolisian."

"Tolong semua mundur. Kalian menghalangi pemeriksaan."

"Minggir semua!"

Pak Supri, menyipitkan matanya di depan layar monitor. Kasak-kusuk di ruang kedatangan pagi ini membuat seluruh pegawai kantor bandara riuh, sejak mulai ada laporan tentang koper coklat di bawah kursi tunggu. Semakin riuh dengan datangnya beberapa personil kepolisian dan tim gegana.Ruangan telah ditutup sejak subuh tadi. Kru televisi dilarang masuk dan hanya menunggu.

Sudah tiga hari Pak Supri mengamati koper itu dari ruang monitor. Tidak ada yang mengambil. Pertama terlihat olehnya, ada seorang gadis kecil yang menunduk dan meletakkan benda itu di sana. Dua hari tidak ada perubahan dan pria paruh baya itu mulai menceritakan kecurigaannya kepada Feri, rekan sejawat.

Dari ruangan monitor, Pak Supri jelas melihat Feri yang memberi penjelasan kepada tim kepolisian. Sedangkan tim gegana mulai berusaha membuka koper coklat itu.

Jantung Pak Supri semakin berdebar dengan usaha tim gegana yang kesulitan. Bukan mereka yang di sana saja yang penasaran akan isinya, justru dialah yang dari awal terusik rasa ingin tahunya. Namun, hatinya tidak bernyali seperti Feri.

Kehebohan terjadi di dalam layar monitor. Mulut Pak Supri pun jadi melongo. Koper coklat itu kosong. Tidak ada apapun di sana.

"Kok bisa nggak ada ya? Kemana isinya?" Pak Supri berbisik sendiri.

"Di sini."

Suara lirih itu memaksa Pak Supri menoleh ke kiri dan pupil matanya seketika membesar.

Di sampingnya berdiri sosok anak kecil yang berbau anyir dan hitam legam.

 

 

Hari Ke-8

 



KARAMNYA KAPAL DEDEMIT

 

Maaf ya, 🙏 ini bukan plesetan kapal van der wijck, cuma kebetulan saja sama-sama kapal.

 

Suatu malam yang cerah, langit penuh bintang kejora. Kapal berlayar di tengah lautan. Makin lama makin jelas bentuk rupanya. Itulah kapal api yang sedang berlayar. Asapnya yang putih membumbung di udara.

 

Pasti ada yang baca sambil nyanyi nih. 😂

 

Okeh! Lanjuuut!

 

Kapal itu mengalami kebocoran. Air mulai masuk ke dek 1. Para ABK, anak buah kapal pun telah siap sedia dengan situasi berbahaya.

 

"Segera tutup pintunya! Beralih ke dek 2!"

 

"Siap, Kapten!"

 

Namun, siapa sangka, ternyata ada ledakan di lambung kiri kapal.

 

"Kapal mulai oleng, Kapten!" Suara ABK lain yang bertugas di dek 8 menginformasikan keadaan di atas sana melalui walkie talkie.

 

"Turunkan jangkar! Bawa penumpang ke haluan! Segerakan tim sekoci!"

 

"Siap, Kapten! Laksanakan!"

 

Suasana riuh teramat riskan yang terjadi di dek 8. Satu persatu sekoci diturunkan. Wajah-wajah penuh ketakutan dan kecemasan. Tidak ada lagi canda, tawa dan ceria.

 

Lalu....

 

"Cepat dibenahi! Sudah mulai pagi!"

 

"Sebentar lagi dong, Buu."

 

Tiba-tiba pintu terbuka dan lampu menyala.

 

"Ya ampuuun! Berantakan amat." Wanita itu memungut benang-benang yang berhamburan, kain perca yang awut-awutan. Cuma sekoci yang tersusun rapi, berbaris lima dan bertingkat pula.

 

 

Hari Ke-9

 



IRAMA MALAM

 

Hujan baru saja reda. Rasanya nelangsa meringkuk di sisi gudang di samping pohon kelapa. Beginilah jadinya kalau terlambat pulang.

 

Aku kedinginan dan ingin tidur, tetapi, suara jangkrik dan kodok itu sangat mengganggu.

 

Eh, tunggu dulu! Lalu, kenapa tiba-tiba ada suara 'ciap-ciap' seperti suaraku?

 

 

Hari Ke-10

 



PAYAH BILANGLAH POKOKNYA!!

 

 

Alkisah ini cerita tentang seorang wanita, sebut saja Melati, yang ingin putus dari pacarnya, sebut saja Kumbang. Namun, Melati tidak menemukan cara jitu sebagai alasan.

 

"Dek. Kiriman Abang sudah datang. Sekali-sekali Abang yang traktir makan, masak kamu saja yang traktir Abang. Besok kita ke Genit Plaza ya. Kamu tunggu di depan gedung kampusmu saja."

 

Itu percakapan mereka kemarin dan paling absurd yang Melati dengar selama delapan bulan mereka pacaran atau selama wanita muda itu hidup di dunia ini.

 

Begitulah.

 

Ingin tertawa, tetapi takut muntah. Ingin memaki, nanti disumpahi cepat mati. Mungkin karena itu, dia memilih diam dan menggerutu.

 

Hari H pun tiba. Mereka duduk sebentar di meja paling pojok sebelum memesan menu, lalu, Kumbang bertanya tentang pesanan kekasih tercintanya yang begitu manis meski tersenyum sinis.

 

Setengah jam berlalu. Entah salah di mana, saat itu tempat makan yang mereka kunjungi sangat ramai setelah mereka duduk di sana. Melati melihat pacar salah kaprahnya sedikit berlari menuju meja mereka.

 

Di mana pesanannya? Mengapa Si Tolol ini nggak membawa baki berisi pesanan mereka? Melati tampak bingung.

 

"Dek, uang Abang kurang. Bisa tolong ditambahi?"

 

Sehari kemudian, mereka pun putus.

 

======

 

Itu tadi tulisanku di suatu event menulis di Instagram. Sederhana, bukan? Bahkan bermalas-malasan saja sudah bisa mendatangkan ide, apa lagi tidak malas. Jadi, kalau bisa jangan malas-malas ya.

 

Masih ada event-event lain, sih. Hanya saja, karena aku sedang mempersiapkan naskah novel, jadi blog agak terlupakan sejenak.

 

Baiklah, manteman. Terima kasih banyak bagi yang mampir juga memberi kritik saran untuk semua tulisanku. 🙏🏻

 

Ditunggu komentarnya eaaaa!! 🤗

Kamis, 22 Juli 2021

RARA ANDINI & CERMIN AJAIB

            Ini adalah karya solo pertama seorang sahabatku yang sama-sama melakoni dunia literasi. Kami berjuang di genre masing-masing. Semoga aku juga akan menyusulnya menerbitkan buku solo ya. 😄

 

            Jadi, aku tulis di sini salah satu cerita yang ada di buku.

 

RAHASIA SANG PUTRI RAJA (Bagian 1)

 

        Malam mulai merayap turun. Hanya suara jangkrik dan kodok yang terdengar bersahutan. Diterangi cahaya sang rembulan, Utari mendekap erat bayi mungil dalam gendongannya. Kakinya melangkah secepat mungkin. Melompati pematang, menerobos belukar, menyeberangi sungai kecil. Terkadang kerikil dan semak berduri menggores telapak kaki. Akan tetapi gadis itu tidak peduli.

 

            Di depan sana mulai tampak kelap-kelip pelita dari rumah-rumah penduduk. Utari kian bergegas. Sesekali dipandanginya bayi merah yang masih saja terlelap. Bayi yang cantik, dengan rambut ikal dan tahi lalat menghias ujung hidungnya. Tak terasa, setetes air mata Utari jatuh di pipi sang bayi. Buru-buru Utari bersenandung agar bayi itu tidak terbangun.

 

“Tak lela, lela lela ledung (Tak lela, lela lela ledung)

Cup menenga aja pijer nangis ( cup diamlah jangan menangis terus)

Anakku sing ayu rupane (Anakku yang cantik rupanya)

Yen nangis  ndak ilang ayune ( kalau nangis nanti hilang cantiknya)”

 

            Tiba di sebuah rumah, Utari mengetuk pintu. Cepat, cepat! Buka pintunya! Ia memohon dalam hati. Tidak berapa lama, terdengar derit pintu terbuka. Seorang perempuan bertubuh gemuk berdiri dengan mata setengah terpejam karena mengantuk.

 

            Tanpa banyak cakap, Utari menyodorkan sang bayi. Tentu saja Nyi Tambir, nama perempuan itu, gelagapan. Kantuknya hilang seketika.

 

            “E … lhadalah! A – apa ini? Siapa kamu?” tanya Nyi Tambir bingung. Di hadapannya, berdiri seorang gadis dengan napas terengah-engah.  Wajahnya setengah tertutup oleh kain selendang.

 

            Namun, Utari  tidak punya banyak waktu. “Nyi, tolong rawat bayi ini baik-baik. Namanya Rara Sekar. Kelak aku akan menyusulnya jika waktunya tiba,” pinta Utari. Lalu tanpa  berkata-kata lagi, ia mencium pipi sang bayi dan bergegas pergi. Dalam sekejap, bayangannya menghilang ditelan gelapnya malam.

 

            Tinggal Nyi Tambir yang masih terbengong-bengong sendiri dengan si bayi mungil dalam gendongannya. Apa yang terjadi barusan, tanyanya dalam hati. Siapa gadis itu, dan siapa pula bayi ini?

 

            “Bune, siapa itu yang datang?” suara Ki Tambir menyadarkan istrinya.

 

            “Ha? Aduh, entahlah Pakne,” jawab Nyi Tambir kebingungan. Ia memperlihatkan bayi itu kepada suaminya.

 

            “Lho, lho, lho. Bayi siapa ini,  Bune?” Ki Tambir bergantian memandangi Nyi Tambir dan bayi yang berada dalam gendongan.

 

            “Aku juga tidak tahu, Pakne. Barusan ada seorang gadis yang memberikan bayi ini.”

 

            Tepat saat itu sang bayi terbangun dari tidur. Ia menatap Ki Tambir dan Nyi Tambir dengan bola matanya yang bulat dan jernih. Seketika, suami istri itu jatuh iba.

 

            “Aaah! Lucu sekali, ‘kan, Pakne? Mulai sekarang, aku akan merawatnya. Karena bayi ini mungil, cantik,  menik-menik, jadi akan kuberi nama Menik.”

 

            O-ow! Nyi Tambir rupanya tidak mendengar pesan Utari, bahwa nama bayi itu adalah Rara Sekar!

 

            Menik alias Rara Sekar kemudian diasuh dan dibesarkan oleh  kedua suami istri itu. Ki Tambir dan Nyi Tambir sangat menyayangi Menik. Apalagi sudah bertahun-tahun mereka mendambakan kehadiran anak. 

 

            Bulan berganti, tahun pun berlalu. Menik tumbuh menjadi seorang anak perempuan yang cantik, pintar, dan baik budi. Ia juga anak yang rajin. Setiap hari ia membantu pekerjaan Nyi Tambir membuat jamu. Tugas Menik adalah memarut dan memeras kunyit. Perasan kunyit itu kemudian direbus oleh Nyi Tambir bersama campuran gula jawa dan asam jawa. Jadilah jamu kunyit asam yang segar. Setelah siap, Nyi Tambir akan menggendong botol-botol jamu dalam keranjang bambu dan menjajakan keliling kampung.

 

            Sementara itu, di istana kerajaan Giri Saloka, Rara Wulan tengah bermuram durja. Meskipun bola matanya memandang ke taman istana yang asri, tetapi pikirannya melayang jauh ke masa lalu. Tujuh  tahun sudah sejak ia menyuruh Utari membawa pergi adiknya - Rara Sekar. Setiap hari, Rara Wulan sangat merindukan Rara Sekar. Ingin rasanya  berjumpa dengan adiknya itu. Seperti apakah dia sekarang? Pasti sudah besar dan cantik, terka Rara Wulan.

 

            Lamunan Rara Wulan mendadak buyar saat dikagetkan oleh seekor merpati yang  hinggap di pinggir jendela.

            Aku harus melakukan sesuatu, bisiknya dalam hati.

 

(BERSAMBUNG)

 

Gimana? Seru ya! Jadi, tunggu apa lagi? Pesen sekarang ya. 🙌 

Minggu, 11 Juli 2021

Dalam Damai Kita Bertemu Bahagia


Konteks BAHAGIA tiap orang berbeda-beda. Bisa jadi bahagia itu sebenarnya persoalan yang sederhana. Tapi kita yang terlanjur membuatnya tampak rumit dan sulit mendapatkannya.

 

Bisa jadi bahagia itu sebenarnya pun hanya soal di mana kita letakkan standar ukuran. Di gantungan yang wajar atau malah melangit di atas awan.

 

Beberapa ada yang cukup berdua saja dengan pasangannya sudah bahagia. Walau makan cuma tempe dan garam.

 

Beberapa lagi memiliki rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah pun sudah bahagia, apalagi ditambah anak-anak yang sholeh dan sholeha, lengkaplah kehidupannya, walau hidupnya sederhana cenderung miskin papa.

 

Namun, banyak juga di antara orang yang bahagia jika memamerkan kekayaan dan menghambur-hamburkannya. Semua tunduk dan menyanjungnya bak raja sejagad raya.

 

Ada juga orang yang bisa bahagia hanya dengan jalan-jalan atau traveling keliling dunia. Rasa hati bagai burung yang terbang tinggi. Bisa ke sana ke mari.

 

Dan, ada juga yang sangat bahagia jika makan apa saja tapi tidak bikin kurus bentuk tubuhnya.

 

Hmmm? Kalau yang ini agak beda ya konteks harfiah bahagianya. Semua orang sepertinya ingin begitu, sih. 😅

 

Bahagia bagiku dan sedang kujalani saat ini adalah bersyukur atas apapun yang selalu datang padaku, ikhlas dan pasrah di setiap hal.

 

Awalnya sungguh berat. Kadang ketemu luka, duka, nestapa. Tapi itu karena pikiran dan hati kita cita-citanya dunia, begitu kata Aa Gym. Walau miris, namun, ada benarnya juga.

 

Semakin tinggi syarat bahagia, semakin kita butuh lebih banyak anak tangga untuk meraihnya. Tenaga dan perhatian terkuras olehnya hanya karena dibuat sibuk dengan urusan menambah anak tangga. Sedangkan bahagia yang diharapkan ternyata masih jauh di depan mata.

 

Padahal, untuk menggapai bahagia, Allah tidak syaratkan sesuatu yang memberatkan. Allah katakan : "Sungguh jika kalian bersyukur, Kami (Allah) benar-benar akan menambah nikmat kalian."

 

Alhamdulillah 'ala kulli hal, bersyukur pada setiap keadaan. Sebab, setiap saat karunia Allah senantiasa tercurahkan. Hanya saja, kita yang luput memperhatikan, akibat terlalu tinggi mematok syarat kebahagiaan.

 

Minggu lalu, kebahagiaan pun menaungi wajah-wajah kami. Allah kasih waktu, tenaga, uang, bahkan kesehatan untuk kesempatan kami bersilaturahmi. Yang kami rasa saat seperti ini belum tentu akan datang lagi.

 

Tidak perlu ke luar negeri. Tidak perlu uang berlebih. Tidak perlu makanan mewah yang tersaji. Tidak perlu pamer segala macam, begono begini. Cukup seperti ini. Menikmati waktu dan menjaga ukhuwah antara keluarga sampai ke anak cucu nanti.

 

Sebenarnya menggapai rasa bahagia itu ternyata sangatlah mudah. Syukur, ikhlas, pasrah. Seperti kata-kata di lagu Pak Ebiet G. Ade, "...bila kita pasrah tumbuh rasa damai, dalam damai kita ketemu bahagia..."

 

Semakin kita menghayati karunia Allah Ta'ala,  semakin hati kita dipenuhi semerbak bunga-bunga bahagia.


Sabtu, 26 Juni 2021

MENDONGENG SEPULUH HARI

Iseng-iseng aku mah, ikutan event menulis sepuluh hari di instagram. Di antara hari-hari itu, ada dua hari dengan ketentuan tema, hari keempat dan hari terakhir.

 

Beberapa isi tulisanku karena males mikir. Beberapa karena kebanyakan mikir. Dipikir-pikir yaaa, Alhamdulillah, masih dikasih kepala yang ada pikirannya. Gimana yaaa, yang nggak ada pikirannya?

 

Omong-omong, ngapain juga mikir pikiran-pikiran itu! Huh!

 

Langsung aja dah!

 

😝

 

Harike01

 


PERJALANAN

Siang ini luar biasa panasnya sampai menusuk kulit. Jaket, masker, sarung tangan, kaus kaki pun tak kuasa menahan teriknya. Tas ransel yang mulai miring kubenahi sejenak. Kemudian, kutekan kopling, mulai melakukan perpindahan gigi dan perlahan lepas kopling sekaligus menaikkan gas. Motorku melesat cepat melewati truk FUSO yang cukup panjang.

Sial!

Ada becak dari arah yang berlawanan baru keluar dari jalan kecil dan langsung masuk ke jalur kiri. Mendadak kaki kanan ini menginjak rem. Sedikit mengumpat, aku pun meliukkan motor ke arah kanan dan kembali melesat.

Jalanan masih terbilang lengang. Aku serasa raja jalanan. Seratus sepuluh kilometer per jam yang tertera pada jarum speedometer. Mantap ah! Aku pun bersenandung entah lagu apa.

Memasuki jalanan sempit, di depanku berjejer tiga truk barang, empat mobil pribadi dan satu truk minyak. Sedangkan sisi yang berlawanan ada dua truk kontainer panjang yang berjalan lambat. Dua kendaraan pribadi yang mengekor di belakangnya, diikuti satu bus antar lintas. Masih dari arah yang berlawanan, beberapa motor mulai tak sabar ingin menikung. Dari jalur perjalananku, ada dua motor bebek dan tiga motor matic juga sama niatnya. Mereka mulai mepet di bagian belakang truk, berharap ada celah dan kesempatan untuk mendahului.

Menit-menit penuh kesabaran akhirnya usai. Motorku melaju di urutan pertama melewati rentetan kendaraan di depan.

I am the winner!

"Diooooo! Dari tadi disuruh mandi bukannya mandi." Wanita paruh baya itu tampak melotot, berdiri di depan pintu kamar sambil berkacak pinggang.

"Iya. Iya, Mak!" Dio meletakkan stik sega, meraih handuk dan bergegas.

 

😝

 

Harike02

 


KEBUN TETANGGA 

Misteri tentang mengapa rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri, masih belum terpecahkan. Konon lagi mengapa kebun tetangga lebih subur dari kebun sendiri.

Namun, ini bukan tentang lebih hijau atau lebih subur, ini tentang sesuatu yang tinggal di kebun tetangga.

Jauh dong sama paragraf di atas tadi ya? Yaaa, kagak apa-apa. Namanya juga pembuka wacana. Ohohoho.

Jadi ceritanya begini. Kebun tetangga yang luasnya hampir satu hektar itu banyak sekali ditumbuhi pohon buah-buahan. Ada mangga, kedondong, jambu batu, jambu air, pepaya dan alpukat. Tetangga sekitar mengatakan kalau pohonnya tidak pernah berhenti berbuah. Pemiliknya tidak tinggal di kampung sini. Mereka tinggal di kota. Tetapi, ada waktu tertentu mereka pulang dan terkadang menginap di sana.

Yang menjadi masalah tetangga sekitar adalah gubuk sederhana yang berada tepat di tengahnya. Apalagi terdengar kabar kalau tiap malam ada lampu yang menyala di sana. Masalah besar pun terjadi setelah seorang warga meminta anaknya memeriksa dan seminggu tidak kunjung terlihat lagi batang hidungnya.

Si ibu dilanda gundah dan menangis seharian mengutuki perbuatannya.

"Huhuhuuuu.... Gimana ini? Anakkuuu.... Huhuhu...."

"Sabar, toh, Lik. Kita sudah hubungi Pak Haji Restu."

"Mudah-mudahan Eko segera ditemukan."

Ibu-ibu pengajian mencoba menguatkan hati Lilik, sang ibu yang anaknya hilang.

"Ada apa ini? Ngapain kumpul-kumpul di sini?"

Semua menoleh ke arah pintu pagar. Melotot dan melongo.

"Ealaaah! Kampreeet!"

 

😝

 

Harike03

  


KARENA GAGAL PANEN

"Nggak usah semeter muncung* kau itu!"

"Tapi, Bun, Iwi sudah kepingin banget beli baju itu. Modelnya belum ada yang punya."

"Sudahlah. Kau 'kan tahu, hasil tambak udang, sawah dan sayuran tidak memadai. Sudah, sana. Bantu abangmu mengepel dulu."

Sudah dua hari air laut pasang menggenangi pemukiman warga. Ini hari ketiga dan air mulai surut seluruhnya.

"Belanja online lagi?"

"Nggak apa 'kan, Yah. Wajar dong anak gadis kita tampil gaya. Cantiknya nggak ada yang menyamai di kampung kita."

"Tapi kita 'kan bukan orang berada, Bun. Tambak udang dan lahan sayuran pun masih menyewa. Kurangilah gaya hidup mewah. Paling tidak, tolong dijual dulu kalung Bunda itu untuk membeli lahan dan bangun rumah."

"Eh, enak saja! Ayah saja yang kurang usahanya. Kalau perlu, ikuti cara Wak Luki, yang cari nafkah ke pulau seberang sana."

"Jadi TKI bukan solusi lho, Bun. Ki...."

"Halaaah! Nggak usah banyak alesan! Sebelum...bla...bla...bla...."

"Yah, temani Didi beli makanan bebek, yok? Sudah habis."

"Ayok." Pak Solekan bergegas menghampiri motor yang sudah dikeluarkan Didi.

"Heh! Jangan lari dari tanggung jawab kalian berdua! Ini rumah belum beres!"

"Giliran Bunda sm Wiwit. Jangan asyik main hape aja." Didi berteriak sambil melajukan motor sebelum sapu lidi itu terbang dari tangan ibunya.

 

*muncung semeter = manyun/merajuk

(janganditiruyapemirsaaah!)

 

😝

 

Harike04

 


KEMBALILAH PADAKU 

Sudah hampir dua tahun sejak aku putus dengannya. Lalu, tiba-tiba dia datang dan seenaknya mengatakan,

 

"Abang tahu kamu udah punya pacar. Abang juga udah punya. Tapi Abang rela putuskan pacar Abang kalau kamu minta balik."

 

APA?! AKU YANG MINTA BALIK?!

Hiiiiii!!

 

Seketika aku merinding. Aku memutuskannya karena dia tipe pacar penjajah.

 

Aku memasang wajah datar dan berharap dia segera bergegas keluar. Tapi aku lupa, dia juga tipe manusia yang diusir dulu baru antenanya nyala.

 

Lalu, terbersit olehku, dia menerjang dan memelukku erat. Hiiiiii! Posisiku siap sedia untuk lari.

 

😝

 

Harike05

 


DEMI APA? 

"Satu! Dua! Satu! Dua! Yak! Mundur ke belakang dua langkah! Yak! Tarik tangan ke atas! Satu! Dua!"

Napas Una mulai ngos-ngosan. Namun, semangat untuk terus berlatih semakin membara. Apalagi bila mengingat kejadian dua minggu silam.

"Eh, lihat cewek itu! Sepertinya dia naksir kamu, Rey. Sering kali curi-curi pandang ke arahmu."

"Ish! Berkaca dulu. Lihat tuh body, gempal juga berlemak." Matanya sinis ketika mengatakan itu.

Walau sayup terdengar oleh Una, tetapi kata-kata itu menusuk relung hatinya.

Reynold, pemuda kalem semester lima fakultas ekonomi, tidak disangka bermulut tajam. Bodoh sekali untuk seorang Una jatuh hati kepadanya.

Lalu, di sinilah sekarang dia, menikmati latihan-latihan yang cukup menyiksa.

Hari demi hari dan tidak terasa sudah seratus hari, Una merasakan hasilnya. Tubuhnya ramping dan wajahnya imut berseri.

Hingga suatu hari di kampus....

"Kamu ya, yang namanya Una?"

Dede, teman si Reynold bedebah ini datang dan menghampiriku!

Una mengangguk.

"Itu...Reynold kirim salam. Sebenarnya aku ju...."

"Sore, Una. Maaf ya, lama nunggunya?" Seorang lelaki macho (macamcoro 😂) meraih tangan wanita itu dan direkatkan di dadanya yang bidang.

Seketika Dede ngacir entah ke mana. Una tersenyum tipis dan berbisik ke arah Dedi, "biasa aja kaleeee, kagak usah lebaiii." Una melepaskan tangannya.

"Biar lebih meyakinkan lho, Markonah!"

"Aah! Diem lu!"

Una berjalan santai menuju parkiran mobil dan membiarkan instruktur senamnya terus mengoceh.

 

 

===bersambung===

(FLASHBACK) DARI TANAH TANDUS

  Blurb: “Kak Ineee. Kepala Rubi pusing, Kak.” “Bertahanlah, Rubi! Bukan sekarang saatnya!” Ine dan Rubi, dua gadis kecil yang ter...