Jumat, 18 Desember 2020

Ternyata, Aku....

Terlalu Sibuk Mencari Kebebasan

Dan aku pun terlalu sibuk jalan-jalan menikmati liburan, sampai-sampai tema "sibuk" kemarin tidak teeer---setor. Ditambah lagi cerita ini masih pertengahan. Sayang sebenarnya,, sih. Padahal pas banget buat temanya.

Cerita ini sudah yang ketiga. Niatnya dibuat nggak mesti panjang-panjang. Tapi kok bisa ya masih berkelanjutan. Aku sendiri juga heran.

Ah, kebanyakan cuap-cuap. Langsung saja laaa. Cekidot, yuuuks....

 

***

 

Aku menutup mulut dan hidung ini agar tidak bersin. Namun, udara lembab di bawah ranjang tidak memberiku pilihan. Iya, aku alergi udara lembab. Sama seperti kejadian di ruang gelap tadi. Menahan sekuat apa pun tidak membuat rasa ingin bersinku terhenti. Tepat ketika aku bersin, ada yang mengetuk pintu.

Hhhh! Selamat. Selamat. Aku mengurut dada. Kulihat Raja menuju pintu dan membukanya.

"Pangeran Frederick ingin bertemu Anda, Yang Mulia."

Sepertinya Raja mendengus kesal. Terdengar dari helaan napasnya.

"Apa tidak bisa besok saja?"

"Pangeran Frederick mengatakan bahwa hal ini mendesak, Yang Mulia. Beliau sedang menunggu Anda di ruang baca."

"Baiklah."

Suara Raja seperti masih kesal.

"Kalau begitu, tolong kalian cek Permaisuri di dapur istana. Jika melihatnya di sana, segera katakan padaku."

Mati aku!!

"Baik, Yang Mulia."

Seketika aku berguling-guling keluar dari kolong ranjang setelah pintu tertutup. Pikiranku liar ke mana-mana. Mataku menatap meja di samping ranjang. Tanpa pikir dua kali, kuraih tiga roti di sana. Tergopoh-gopoh aku berlari ke kamar. Kututup pintu, yang sialnya, tidak ada kunci di sana. Kuhempaskan roti tadi di atas ranjang. Aku melesat cepat masuk ke kamar mandi, membuka baju yang bau karena keringat di ruang gelap tadi, membasahi tubuhku sekedarnya, mengeringkannya pun sekedarnya, memakai baju tidur apa saja, yang penting baju tidur. Lalu kusisir rambut yang berantakan. Kuikat. Kemudian aku melompat ke atas ranjang, mencari posisi yang nyaman. Kutarik napas panjang. Aahhh. Lalu kubuang. Huuuuh. Perlahan kunikmati roti hasil jarahan.

Apa yang kulakukan tadi kemungkinan tidak sampai sepuluh menit. Kuraba dada ini. Jantungnya masih bergerak cepat. Kemudian kuatur lagi napas yang tadi tersengal sambil sesekali mengunyah roti yang kujarah dengan lahap. Seakan-akan ini roti terenak di dunia atau aku berasal dari dunia antah berantah dan kelaparan selama bertahun-tahun. Ya Tuhan. Begini amat hidupku.

Sisa roti yang tinggal separuh kuletakkan di baki meja di sebelah ranjang. Perutku seperti akan pecah. Kulihat ada susu hangat di situ. Siapa gerangan yang meletakkannya? Apakah Raja? Yang benar saja. Aku pun tersenyum kecut.

Ada suara dari pintu penghubung. Aku pun ambil posisi pura-pura tidur.

 

***

 

Aku terduduk kaku. Melamun memikirkan kejadian semalam. Memangnya ada kejadian apa semalam? Sepertinya tidak terjadi apa-apa ya, 'kan. Benarkah? Tapi mengapa aku terbangun di dalam pelukan Raja?

Ini gila! Benar-benar gila!

Pelan aku menuju tepi ranjang. Kakiku mengarah ke sana terlebih dahulu. Lalu pelan tapi pasti mulai menggeser sedikit demi sedikit pinggulku. Sedikit lagi! Sedikit lagi!

"Mau ke mana?"

Aku menoleh. Jantungku mau copot saja rasanya. Raja sudah terduduk di belakangku.

"A-a-a...." Tiba-tiba saja aku punya penyakit gagap. Lalu sebisa mungkin aku bergerak menuju tepi ranjang.

Entah bagaimana adegannya, lengan Raja yang besar itu sudah berada di pinggangku dan meletakkan tubuh ini di atas ranjang kembali. Belum sempat aku bernapas, bibirnya sudah mengulum di bibirku.

"Masih subuh. Belum ada yang bisa kita lakukan selain ini." Raja berbisik di telingaku. Mengulum bibirku lagi. Mengecup wajah, leher hingga ke dada.

Aku terbaring kaku. Membiarkan Raja menggeranyangi tubuhku. Bodoh! Bisa-bisanya aku menutupi wajah ini dengan tangan ketika Raja melucuti bajunya sendiri. Dan yang paling parah, aku mulai menikmati sentuhan yang Raja lakukan. Kupikir, hal ini seperti pernah terjadi. Tapi, di mana? Kapan? Dengan siapa? Entah perasaanku saja atau apa, aroma tubuh Raja terasa sangat familiar bagiku.

 

***

 

Sarapan pagi ini benar-benar menggugah selera. Pastry kriuk yang dilumuri coklat leleh, beberapa dilumuri blueberry. Ada juga beberapa croisant isi dengan campuran coklat dan mozarela. Belum lagi susu coklat hangat yang harumnya memenuhi seluruh ruangan. Dan yang paling penting, terlihat cantik sampai merintih cacing di perutku, omerice, yang ada suiran daging ayam kering di atas telurnya. Yummy!!

Akhir-akhir ini, aku bisa dengan leluasa meminta makanan yang kumau. Dan juga diperbolehkan tidak bergabung dengan anggota istana yang lain. Kalau tidak salah, pernah dua kali aku ikuti acara makan malam bersama. Namun, sebelumnya aku meminta hidangan yang lain dan yang paling penting, apa yang terjadi ternyata tidak seperti dugaanku. Mereka semua terlihat ramah. Hmm? Menurutku, sih. Terutama adik Raja,  Pangeran Adam. Walau dari ibu yang berbeda, mereka sepertinya terlihat akrab. Hanya saja, wajah ibunya Pangeran Adam selalu melihat sinis ke arahku. Apalagi dengan desas desus yang kudengar, bahwa Permaisuri sudah hamil. Aku senyum-senyum sendiri ketika mendengar gosip itu dari Jenith. Mungkin akibat jarangnya aku tampil di acara seperti makan malam atau acara yang lain.

Ibu Suri tidak terlihat. Mereka katakan, selama ini Ibu Suri memilih tinggal di desa untuk beristirahat, menikmati hari tuanya. Belum pernah sekali pun aku bertemu dengan Beliau. Apa lagi letak desanya seperti dirahasiakan. Aku pun malas untuk bertanya-tanya. Dengan Jenith, aku hanya mengorek sedikit keterangan tentang Ibu Suri.

Aku memilih hidangan pastry dulu sebelum hidangan paling pamungkas. Aku merasa heran sendiri. Kenapa aku rakus sekali pagi ini. Apakah karena kejadian subuh tadi atau ada hal lain, aku tidak tahu. Aku punya firasat kalau aku harus banyak makan. Seperti ada yang harus aku kerjakan. Entahlah. Siapa tahu. Hanya buat jaga-jaga saja.

Tiba-tiba para pelayan yang menemaniku membungkuk dan pergi begitu saja. Aku melongo. Raja sudah memelukku dari belakang sambil mengecup tengkuk yang membuat seluruh bulu di lengan dan kakiku berdiri.

 

***

 

Raja sudah pergi sejam yang lalu. Kudengar ada undangan dari negara tetangga dan kepergiannya bisa seharian. Aku langsung menolak ajakan Raja setelah melihat tatapan Pangeran Frederick yang seperti ingin menelanjangiku. Alasan klasikku biasa, tidak enak badan. Raja meraba perutku dan mengecup kening ini mesra sebelum beranjak. Dan Raja membisikkan sesuatu yang membuatku bergidik. Aku tersenyum, aaah, tidak, lebih tepatnya meringis. Miris.

Aku berdiri terpaku di depan pintu menuju ruang bawah tanah. Aroma lilin menyengat di depanku. Jantungku berdebar. Antara takut, penasaran dan malas. Kutarik napas sekuatnya dan kuhembuskan dengan pelan. Dalam hati terucapkan basmallah dan kusibakkan tirai penutupnya. Pintu kubuka perlahan dan sebelum ditutup, tirainya kurapikan kembali seperti semula.

Kutelusuri tangga menuju ke bawah dengan langkah pelan. Bayanganku menari-nari di sisi dinding. Pikiran mengerikan tentang aku sendiri di dalam ruangan ini segera kutepis. Aku harus mencari tahu tentang ruangan ini, ada apa dan menuju ke mana saja. Lebih tepatnya, aku ingin keluar dari tempat ini. Mencari tahu tentang diriku sendiri. Kalau perlu kutinggalkan semua ini. Mudah-mudahan ketika itu terjadi, aku masih hidup. Itu saja.

Sampai di tengah ruangan, lilin kuletakkan di meja. Ternyata ada meja lebar dan panjang di tengah ruangan. Lengkap dengan kursinya. Di atas meja ada lampu gantung dan lilin di tiap cekungan. Kupanjat meja dan menyalakan semua lilinnya. Ruangan terlihat lebih terang dari sebelumnya. Pandanganku mengitari seluruh ruangan. Kemarin, aku terjatuh tepat di samping lemari, lebih tepatnya, rak tempat penyimpanan senjata kuno. Tidak teraba olehku kemarin malam karena aku berjalan ke sisi kanan.

Aku melangkah menuju rak di sisi kiri ruangan. Panjangnya hampir memenuhi seluruh dinding. Pedang, busur dan panah mendominasi seluruh isi rak. Selain itu ada beberapa pisau kecil khusus untuk membidik jauh. Tombak besi dan kayu ada di sisi rak sebelah. Semua jenis tombak ada di situ. Aku mengambil tombak kayu yang menurutku agak ringan untuk dibawa. Kupilih busur yang ringan juga dan kuselempangkan di bahu badan. Panah hanya kuambil tujuh batang. Menurutku ganjil lebih baik dari pada genap. Entahlah. Untuk gaya saja hal ini kulakukan. Padahal memanah saja aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku cengengesan dalam hati.

Setelah beres berbenah, aku menuju pintu yang teraba kemarin. Ternyata ada palang di sisi bawah dan sisi atasnya. Pelan kuangkat kayu penyanggahnya. Gileee! Berat amat! Siapa, sih, yang kurang kerjaan pasang palang seberat ini. Nggak usah berat, dipalang saja sudah cukup, kok, tetap tidak bisa dibuka juga. Huh! Aku mendengus kesal.

Hampir setengah jam, sepertinya, aku menurunkan dua palang dari penyanggahnya. Tidak sia-sia aku makan banyak tadi. Untuk berjaga-jaga, aku pun membawa dua roti ukuran jumbo dan air minum dalam kemasan kulit, beserta tiga batang lilin, yang kuambil dari lemari Raja. Semua kumasukkan ke dalam buntelan, maksudku ke dalam tas kulit yang kuambil di malam sebelumnya di dapur. Entah milik siapa tas itu. Aku tidak perduli.

Kuraih lilin di atas meja dan mulai menelusuri lorong gelap di balik pintu yang sudah kulepas palangnya. Sengaja pintunya tidak kututup lagi. Karena aku tidak tahu ada apa di depan sana. Setidaknya, kalau ada sesuatu yang aneh, aku bisa dengan cepat kembali lagi ke istana.

Sisi atas di kanan dan kiri dinding lorong banyak terdapat gantungan untuk obor sebagai penerangan. Aku menyalakannya secara acak, yang penting tidak gelap dan ada penerangan sedikit.

Cukup panjang lorong ini. Hampir saja aku menyerah ketika ada persimpangan di depan. Galau menyelimutiku sejenak. Antara meneruskan jalan di depan, ke kiri ataukah ke kanan? Sementara berpikir, aku menyalakan obor di setiap lorong di kiri dan kanan. Kubaca basmallah dan kupilih meneruskan langkahku ke depan.

Keringat dingin membasahi dahi dan pelipis. Ada debaran aneh setiap aku melangkah menelusuri lorong yang panjang ini. Rasanya lebih panjang dari lorong pertama tadi, sebelum persimpangan. Aku bersin berkali-kali, karena dinding kiri dan kanan juga lebih lembab. Menyentuhnya seperti menyentuh kulit berlendir yang menjijikkan. Membayangkannya aku pun menjadi mual. Tiba-tiba saja teringat bisikan Raja sebelum berangkat tadi.

"Jaga benih ini baik-baik. Aku termasuk manusia paling beruntung karena memilikimu dan 'dia'," bisik Raja sambil mengelus perutku.

Wajahku terasa panas. Entah karena ingatan itu atau karena panasnya lorong dengan obor ini. Langkah semakin kupercepat. Tidak ada yang tahu kepergianku. Baik Jenith maupun Anne, bahkan Mrs Doroty. Sebelum pergi tadi, kutinggalkan surat bahwa aku akan pergi setelah Raja, padahal tidak. Kalau nanti mereka bertanya tentang tidak adanya pengawalan kepergianku, itu bisa diatur. Sekarang aku harus fokus dengan langkah ini. Rasanya mulai lelah, lorong lembab ini seperti tak berujung. Berkali-kali aku hampir tersandung bagian bawah baju menyebalkan ini.

Aku bersandar sebentar dan mengatur napas. Terlihat ada cahaya redup di depan. Obor yang sedari tadi kupegang, kuletakkan di penyanggahnya di sisi kiri dinding. Aku berlari dengan menggenggam erat tombak kayu. Berharap tidak ada apa-apa di depan sana. Lariku semakin cepat. Rasa sesak yang terasa membuatku tidak sabar. Mata ini kupicingkan sedikit karena cahaya terang yang membias dari balik jendela. Ruangan kosong yang tidak seberapa luas ini di kelilingi jendela berjeruji. Ada bangku batu di setiap sisi dinding.

Aku terpaku di depan pintu besi. Tangan ini bergetar dan jantungku bergemuruh ketika ingin meraih kunci yang bertengger di lubangnya. Apakah semudah ini? Perasaanku mulai tidak karuan. Antara was-was, senang, penasaran dan khawatir. Sudah sampai di sini, kenapa tidak? Lalu, perlahan kuputar anak kunci, diikuti gemuruh degub jantungku yang semakin intens. Perlahan juga kubuka pintunya. Terdengar decitan yang memilukan. Angin sejuk dan harum yang aneh menerpa wajahku. Ada tangga menuju ke atas. Ragu-ragu aku melangkah, tetapi, tetap saja aku melangkah, menjejakkan kaki di setiap anak tangga.

Deja vu. Mata ini terpana menatap sesuatu di sekelilingku. Lalu langkahku pun terhenti di ujung tangga. Seakan-akan aku pernah ada di sini. Iya, lewat mimpi. Tampak taman bunga yang indah. Ada beberapa pohon kersen dan tabebuya putih dan merah yang sedang mekar. Suasana indah ini membuat aku terpaku dan melongo untuk waktu yang lama. Angin sejuknya membawa kelopak-kelopak dandelion terbang di sekitarku.

"Sedang apa kau di sini?"

Aku terkejut dan menoleh.

 

 

>>>>> bersambung 😂

 

View by: Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hujan Sehari

  #serialtripleks Satu kata untuk hujan sehari, HOREEEEEE .... Maunya sih, begitu. Ekspetasi. Realitanya, perut lapar, mata ceper, b...