Sabtu, 05 Desember 2020

Maaf, Suamiku!

 

Maksud hati minta maafnya pas lebaran aja. Eeeee, belum sempet lebaran malah lebar-an. Kagak nyambung yaa. 😂

Minta maaf juga kagak mesti nunggu lebaran ya, 'kan. Tapi kalau setiap hari minta maaf juga mau muntah dengarnya. 😂😲

Kapan saja saat yang tepat untuk minta maaf? Hmm? Hmm? Hmm? Aish! Egepe la! Langsung sazalah kita ke cerita, yuk. Malas banget bahas-bahas yang kagak perlu dibahas.

 

***

 

Seisi ruangan bergemuruh hebat. Ranjang, meja toilet, kursi, lemari, buffet bahkan aku sendiri pun merasakan amarahnya yang luar biasa. Namun, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku terus meringkuk di sisi bawah ranjang sambil menutup telinga. Berharap pagi segera menyelimuti. Aku terus menangis. Tidak ingin menyesal atas perbuatan yang kulakukan.

 

***

 

Ini terjadi seminggu yang lalu, ketika aku bertemu dengan Ratih, kawan sebaya dari kampung yang sama. Perawakannya sangat berubah total, baik dari bentuk tubuh dan segala onderdil yang dia kenakan. Padahal kami sama-sama janda. Aku janda beranak dua, sedangkan Ratih janda beranak tiga. Ratih ditinggal pergi suami, sedangkan aku ditinggal mati suami.

 

Singkat cerita, setelah Ratih ditinggal suaminya, dia perlahan bangkit dari keterpurukkan dan membuka toko baju muslimah, sama sepertiku. Namun, bisnis tersebut tidak berjalan lancar dan tiba-tiba saja Ratih bertemu dengan teman kuliahnya dulu, Dini. Dini menawarkan hal yang tak terduga bagi Ratih. Akan tetapi, hal yang tak terduga itulah yang membuatnya seperti sekarang ini. Ratih tahu kondisiku, dia datang berkunjung dan menawarkan seperti yang dulu Dini tawarkan.

 

Malamnya aku gelisah. Bingung untuk keputusan yang akan kuambil besok. Ya, besok Ratih datang lagi dan mengantarku ke tempat yang bisa membuat hidupku berubah seratus delapan puluh derajat. Begitu kata Ratih semalam. Apalagi Ratih datang jauh-jauh demi untuk perubahanku. Mengingat anak-anakku masih di sekolah menengah, masih sangat butuh biaya. Terlebih lagi penghasilan toko sekarang sedang tidak memadai, membuat aku galau tingkat dewa.

 

***

 

Akhirnya setelah lima hari bersemedi menenangkan pikiran dan hati, di sinilah aku, duduk manis di samping Pak Kusir, eh, bukan, di samping Ratih yang sedang mengemudi, menelusuri jalan-jalan berkelok yang semakin jauh menuju bukit dan lembah. Melihat perjalanan yang sedang ditempuh ini sempat membuat nyaliku ciut dan ada rasa ingin pulang. Namun, Ratih melihat kecemasan yang kurasakan. Dia menggenggam tanganku dan tersenyum.

"Semua akan baik-baik saja. Aku juga dulu begitu."

Aku tersenyum, aah, lebih tepatnya meringis. Miris.

Setelah hampir tujuh jam menikmati pemandangan jalan yang berliku, akhirnya kami sampai di sebuah rumah asri. Ternyata tidak berhenti sampai di situ, kami masih harus berjalan kaki lagi melewati samping rumah menuju lembah di belakangnya. Asal tahu saja, aku mulai merinding. Pepohonan yang rimbun membuat bulu kuduk berdiri dan kakiku bergetar hebat. Belum lagi saat kami memasuki sebuah gua. Jantungku berdesir. Aku sempat berhenti sejenak di depan gua. Ratih memeluk dan mulai menuntunku memasukinya.

Tidak sampai lima belas menit, aku sudah duduk di sini, di depan juru kunci dan saksi sambil menatap calon suami yang sedang mengucap ijab kabul dan segala janji.

Jantungku berdebar tidak karuan ketika tangannya menyentuh tanganku dan bibirnya mengecup kening ini usai ijab kabul. Sebelum pergi, dia berbisik di telingaku. "Tunggu aku dua hari lagi."

Makjang! 😭

 

***

 

Di hari yang dijanjikan, aku melakukan yang diperintahkan oleh juru kunci, tepat tengah malam, pintu rumah jangan dikunci, di atas ranjang taburi kelopak mawar merah, kalau bisa ada meja di samping ranjang dan letakkan di atasnya baki kosong yang terbuat dari kuningan. Sunnah mandi bersih dan lumuri badan dengan wangi-wangian. Sedikit saran dari Ratih, berpakaianlah seseksi mungkin. Jantungku berdebar hebat.

Hari ini, anak-anak kuminta menginap di rumah neneknya. Aku tidak ingin mereka tahu yang sedang kukerjakan. Pikirku, nanti saja kuberitahu setelah semua selesai. Semudah itu? Entahlah. Aku mulai kikuk dengan mini dress sexy ini. Telapak tanganku mulai berkeringat. Aku berjalan ke sana ke mari untuk menghilangkan rasa gugup di hati. Aku merasa perbuatanku sudah menyalah.

Detik-detik terakhir ketika suamiku tiba, aku berlari menuju pintu dan menguncinya. Kengerian dan ketakutan menguasaiku. Tadi sore Ratih menghubungiku untuk menanyakan kesiapanku. Ratih katakan, nanti saat suami ghaibku tiba dan meminta 'jatah', dia datang dalam wujud aslinya.

 

***

 

Aku tersadar dari lamunan, menangis dan meringkuk di balik pintu. Suara itu berat dan menggema, marah. Aku masih menutup telinga. Sudah malam ke tiga dan aku tidak pernah sekali pun membuka kunci pintunya. Telepon dan kedatangan Ratih pun tidak kugubris. Aku benar-benar membuat diri ini nelangsa.

Ini bukan mencari nafkah dengan cara yang halal. Ini salah. Aku terlalu takut memberikan tubuhku untuk dicumbui oleh 'suami ghaib' ini. Bila kuturuti, baki kuningan itu akan berisi uang keperluan belanja dan segala yang kubutuhkan. Memang seperti itulah seorang suami memberikan nafkah kepada istrinya. Tetapi ini berbeda dan aku merasa ini bukan jalannya.

"Buka pintunya, sayaaang."

Suara beratnya kembali terdengar. Ruangan kembali bergetar setiap tidak ada respon yang kuberikan.

"Bukaaa...."

Aku terus menutup telinga. Berharap suara itu pergi dan pagi datang menjelang. Namun, suara itu tidak pergi, dan pagi masih juga lama berganti.

 

View by: Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dirajai Kepenatan

  Bubur kacang hijau di atas meja hanya dipandangi dengan lesu. Wajah M aisaroh tampak pucat seperti mayat. Pikirannya tidak di sana. Ke...