Sabtu, 17 Oktober 2020

Orang Dalam

Patahan plafon jatuh di depan pintu keluar. Kobaran api semakin garang. Kaki Rika terhenti dan napasnya mulai sesak. Matanya seketika perih dan pandangannya kabur. Panas yang membara membuatnya hampir kehilangan konsentrasi. Tanpa ragu dia berlari menuju toilet dan mengguyur sekujur tubuh.

Asap mulai memasuki toilet. Rika terbatuk dan mengambil serbet yang terjatuh saat dia mengguyur tadi. Dilipatnya serbet itu kemudian diikat ke bagian belakang kepala. Api mulai menjalar ke mana-mana. Rika berlari melompati plafon yang menghalangi pintu keluar ruangan.

Asap di lorong semakin tebal. Api merembet ke sisi kiri kanan. Rika berlari menuju ujung lorong. Naas, plafon ambruk dan dia tersungkur jatuh. Seseorang menindihnya, berusaha menghindari ambrukkan plafon. Rika menoleh. "Pak Adam?"

Adam membantu Rika berdiri dan segera membawa mereka turun dari sana.

***

Udara di lobi kantor ini agak sedikit pengap. Rika dari tadi sibuk memainkan ujung kemejanya sambil menunggu giliran. Ada sepuluh orang, termasuk dirinya, sedang menunggu interview melamar sebagai pegawai bank untuk kantor cabang di kota mereka. Dan dia menanti urutan ke delapan. Masih menunggu dua orang lagi.

Seorang pria di depannya duduk gelisah. Wajahnya sedikit pucat. Dia terus-menerus melihat ke arah Rika. Dan ketika Rika balas melihatnya, dia menoleh ke arah yang lain.

"Dodi Gunadi?"

Panggilan untuk yang bernama Dodi Gunadi. Pria di depan Rika berjalan memasuki ruang interview.

Ternyata namanya Dodi. Rika meliriknya sekilas sebelum tubuh Dodi hilang di balik pintu. Mata mereka bertemu. Hanya saja, saat itu mata Dodi begitu sinis melihatnya.

***

Aktivitas berjalan seperti biasa. Rika memijat kaki sembari duduk sebentar di pantry. High heel yang baru dibelinya dua bulan lalu ketika dirinya dinyatakan lolos menjadi pegawai, baginya terlalu tinggi. Padahal hanya tiga centi, tetapi karena dia tidak biasa memakai sepatu seperti itu membuat betisnya sering kram. Namun, apa daya, posisinya sebagai teller mengharuskan dia selalu berdiri dalam waktu yang lumayan lama.

Seorang lelaki dengan postur tubuh jangkung masuk ke pantry dan menyeduh kopi.

"Teller baru?"

Rika yang sedari tadi membungkuk menoleh, terkejut melihat ada orang lain selain dirinya di pantry. Dari tadi dia tidak mendengar suara langkah. Pria itu duduk di seberang meja Rika sambil menikmati kopinya.

"Tidak biasa pakai high heel ya, Rika?"

Rika tertegun ketika pria itu menyebut namanya dan menatap penuh curiga. Perkiraan Rika, pria itu berusia lima tahun di atasnya. Si Pria menunjuk ke badge name di dadanya sendiri.

Rika menunduk sebentar. "Oooh. Iya, Pak. Bapak siapa?"

"Saya Adam." Pria itu tersenyum ramah.

Adam? Sepertinya pernah mendengar nama itu, tetapi di mana?

Dodi masuk dan terdiam di depan ruangan pantry. Sama halnya juga dengan Rika. Mereka hanya saling menatap setelah akhirnya Dodi pergi dari pantry.

Rika mendengus kesal. Apa-apaan sih, itu tadi? Sejak melamar kerja dan sudah bekerja di sini pun, sikap Dodi selalu menyebalkan. Memangnya dia salah apa.

***

Pikiran Rika terpecah. Hari ini sangat ramai dengan nasabah. Bahkan di sisi kanan ruangan, bagian customer service, terlihat Dodi yang mondar-mandir dari pagi tadi. Rika belum mengunjungi pantry. Makan siang tadi saja bergantian dengan teller yang lain. Kakinya serasa akan patah.

Seringnya bertemu di pantry, membuat Rika semakin santai berbicara dengan Adam di sana. Dari setiap pembicaran mereka, sepertinya Adam enggan mengatakan posisinya di gedung ini. Namun, Rika bisa menebaknya dari pakaian Adam. Sudah pasti dia punya jabatan paling tinggi di sini. Dia mungkin berpikir agar aku tidak merasa rendah diri karena mengobrol akrab dengannya. Hari ini dia tidak bisa ke pantry.

Sudah hampir pukul tiga siang. Nasabah mulai berkurang, akan tetapi, masih terlihat ramai. Rika berusaha tetap tersenyum meskipun kakinya mulai ngilu.

Dari atas balkon sebelah kiri, tampak pandangan Adam yang menatap Rika begitu dalam. Dari sisi yang lain, Dodi menatap Adam dan Rika bergantian, dengan pandangan kosong yang menyakitkan.

Sadar diperhatikan, Adam memandang Dodi dan tersenyum. Kemudian meletakkan jari telunjuknya di bibir.

***

Hampir dua minggu bank diramaikan oleh nasabah. Rika keluar dari toilet pantry. Dia permisi sebentar dari Mila, teman di bagian teller juga. Sudah dari tadi dia menahan kebeletnya. Walau ada toilet di lantai satu, tetapi Rika lebih suka memakai toilet di pantry. Selain lebih nyaman, tidak ada gangguan dikarenakan beberapa karyawan malas ke pantry yang berada di lantai dua. Padahal ruangannya terbilang cukup luas untuk sekedar tempat istirahat.

Rika sedang mencuci tangan ketika Dodi masuk. Langkahnya berbalik keluar setelah melihat Rika. Rika langsung mengejarnya dan menarik lengan baju Dodi.

"Hei!" Dodi menatapnya sinis.

"Maaf," Rika segera melepaskan tangannya, lalu memberi isyarat dengan membuka mulutnya untuk berbicara sebelum lelaki itu pergi, "sebenarnya ada masalah apa denganku? Apa kita pernah kenal, di suatu tempat, mungkin?" Dodi berjalan masuk kembali ke pantry, diikuti oleh Rika.

"Siapa orang dalam yang kamu kenal untuk bisa masuk ke bank ini?" Suara Dodi yang berat membuka percakapan mereka.

Rika merasa tersinggung. "Hei! Aku murni masuk ke sini dengan usahaku. Apa kamu pikir aku main kotor untuk bisa masuk ke sini?"

Dodi menatapnya lama, lalu mulai beranjak. "Sudahlah. Lupakan."

Rika menahannya di depan pintu. "Hei! Nggak semudah itu."

"Lalu mengapa kamu begitu akrab dengan Pak Adam? Bukankah kalian sudah lama kenal?" Mata Dodi menatap lekat ke wajah Rika. Shit! Dia memang cantik.

Rika melihat Dodi dengan pandangan jengah. "Ya ampuun," dia tertawa, "siapa aku? Siapa Pak Adam? Kenal pun tidak. Lalu apa hubungannya de...."

"Sebelum kamu terpuruk, kuharap kamu segera menjauhi Pak Adam." Dodi memotong kalimat Rika. Suaranya terdengar tegas dan dia beranjak pergi.

Merasa belum puas dan masih bingung, Rika mengejar Dodi kembali. "Apa maksudmu?"

Dodi berhenti sebentar tanpa menoleh ke belakang. "Dia abangku."

Rika melongo menatap punggung Dodi yang berlalu. Jadi apa maksudnya? Apakah Pak Adam sudah beristri? Lalu, kenapa pula Dodi sialan ini tingkahnya menyebalkan seperti itu?

***

Rika berlari menuju toilet pantry. Padahal dia sudah melewati Mang Deni, security di pintu depan. Mila sampai tertawa melihatnya. Satu persatu karyawan mulai beranjak pulang. Beberapa masih ada di lantai dua dan satu. Sebelum mencapai lorong, di atas tangga, Rika mengendus bau karet terbakar yang menyengat. Dia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Kakinya terus berlari menuju pantry. Syukur tadi tas jinjingnya dia titipkan lewat Mila, sehingga tidak perlu ribet dengan situasi seperti ini.

Hampir selesai Rika dengan urusannya, ketika terdengar bunyi 'BOOF' yang sangat keras. Setelah merapikan baju dan membenahi ini itu, Rika keluar dari toilet dan terkejut melihat api yang marak di depannya. Sebelum rasa panik mulai menyerangnya, Rika segera berlari keluar. Naas. Plafon jatuh dan hampir menimpanya. Tidak ingin berlama-lama, Rika kembali masuk ke dalam toilet dan mengguyur tubuhnya sampai sebasah mungkin. Dia pun berlari melompati plafon di depan pintu menuju lorong. Dinding lorong di depan pantry adalah ruangan para eksekutif. Dari mana datangnya api ini? Bagaimana dengan Pak Adam? Rika merutuki diri. Sempat-sempatnya di situasi seperti ini memikirkan hal bodoh.

Ya. Hal bodoh. Saat makan siang tadi, Rika tidak bertemu dengan Pak Adam. Sudah seminggu Rika tidak melihatnya. Di pantry, Rika makan siang bersama Mila dan seniornya, Paula. Tiba-tiba saja cerita mulai merembet ke mana-mana, hampir seperti yang dikatakan Dodi. Mila pun dengan terus terang mengatakan bahwa dia memang direkomendasikan oleh Pak Alex, kepala kantor cabang tempat mereka bekerja. Sedang dua lagi termasuk Rika direkomendasikan oleh Pak Adam, kepala kantor cabang sebelumnya. Ada isu, sebelum Pak Adam tidak menjabat lagi, sebuah surat sampai kepada Pak Alex. Ternyata mereka merupakan teman semasa kuliah dulu.

Masalahnya Rika tidak mengenal Pak Adam. Namun, sewaktu dia masih di SMU, sepertinya dia pernah mendengar nama itu. Hanya saja, tidak mengenal yang mana orangnya.

"Lalu, siapa lagi orangnya selain aku, Mbak Paula?" Rika penasaran walau bisa menduga siapa orang tersebut.

"Adiknya. Dodi Gunadi."

Rika tertegun sejenak. "Tapi, mbak, aku memang benar-benar nggak mengenal Pak Adam. Setelah aku bekerja selama dua bulan kemarin, baru aku bertemu dan ngobrol dengan Pak Adam."

Wajah Paula mengekspresikan keterkejutan yang luar biasa. "Bagaimana bisa?"

Rika memasang mimik bingung.

"Pak Adam sudah meninggal setahun yang lalu."

***

Dodi masih berkemas ketika dilihatnya Rika berlari ke lantai dua. Sebenarnya sudah dua hari ini perasaannya tidak enak. Hanya saja, sangat sulit dikatakan. Hari ini dia begitu lelah. Tadi pagi sewaktu di pantry, dia ingin mengatakan semuanya kepada Rika. Tetapi setelah menatap mata abangnya yang sejak tadi berdiri di belakang Rika, membuat nyalinya ciut.

Saat interview kemarin, Dodi sudah melihat aura yang kurang menyenangkan di sekitar Rika. Bayangan transparan yang dilihat Dodi, tepat di belakang Rika, membuatnya tak berkutik. Sudah lama dia tidak 'melihat' abangnya.

Begitu juga saat Dodi menuju pantry, terdengar Rika berbicara dengan seseorang. Ketika Dodi masuk, terlihat Rika hanya sendirian. Namun, tiba-tiba Adam sudah berdiri di sampingnya.

"Pergilah. Jangan katakan apapun."

Tanpa melihat ke arah Rika, Dodi beranjak keluar dari sana.

Sama seperti di atas balkon. Adam berdiri dari sana memandang Rika. Kemudian menatap Dodi sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir.

"Jangan katakan apapun."

Malamnya Dodi membuka lagi semua berkas dan peninggalan Adam di kamar Ibu. Dipandangi foto Rika dengan setelan putih abu-abunya. Warnanya mulai buram. Saat itu, Adam berkunjung ke sekolah mewakilkan Ibu mereka untuk pertemuan orang tua dan para guru. Abangnya yang pendiam, telah jatuh cinta kepada Rika.

Tiga bulan menunggu ujian akhir, Adam selalu merongrong Dodi bercerita tentang Rika. Tentu saja Rika tidak mengenal Dodi. Mereka lain kelas. Dodi meminta tolong temannya untuk menyampaikan salam dan surat dari Adam kepada Rika. Namun, sepertinya surat itu tidak pernah sampai.

Setelah lulus, ternyata Rika kuliah di pulau lain. Adam menyelesaikan kuliahnya setelah Dodi mulai kuliah. Hari-hari mereka dilalui dengan monoton. Sampai suatu ketika, Adam yang hobi menjepret segala sesuatu yang indah, katanya, tidak sengaja bertemu kembali dengan Rika di pasar buah.

Dodi menatap foto Rika yang sedang memilih buah pir. Seperti biasa, pasti hanya difoto doang tanpa berani mengajaknya berbicara. Dodi menghembuskan napas dan meletakkan kembali semua berkas itu. Ingatan tentang Adam membuat Dodi terpuruk. Ketika tadi pagi dia akan menjelaskan semuanya, Adam muncul di belakang Rika. Dodi memijit pelipis sambil memejamkan mata. Sebaiknya dia segera pulang. Mandi dan langsung rebahan.

Belum sempat kaki Dodi melangkah melewati meja, terdengar bunyi 'BOOF' yang keras. Dodi sampai terpental ke dinding di belakang meja. Sebatang besi, entah dari mana, menancap tepat di samping kepalanya. Pecahan kaca di mana-mana. Kursi, meja dan serpihan lain tampak berserakan.

Napasnya memburu. Luka panjang yang tergores karena pecahan kaca mulai mengeluarkan darah. Pandangannya berkabut. Bukan! Ini asap! Api mulai marak dan merembet ke mana-mana.

Adam berdiri di depan Dodi. Mata Dodi membesar dan menatapnya tak setuju. Secepat kilat Adam menabrak tubuh Dodi.

Adam berdiri dan langsung berlari tanpa perduli luka di bagian kaki Dodi. Dua orang security yang terluka masuk sambil membawa tabung pemadam.

"Pak Dodi mau ke mana?"

Entah security yang mana yang bertanya. Tanpa menoleh, Dodi menjawab, "masih ada orang di atas. Tolong periksa ruangan Pak Budi!"

Dengan sigap dua security itu memasuki ruang Pak Budi. Beliau ditemukan dalam keadaan tengkurap dan masih bernapas.

Adam berlari menuju tangga. Ruangan di bawahnya hancur total. Sepertinya pemicu kebakaran berawal dari sini. Tangga menuju ke atas pun hancur. Adam memanjat dari sisi tembok bekas tangga. Matanya mulai perih. Napasnya pun mulai sesak. Asapnya terlalu tebal.

Tiba di atas, Adam melihat Rika yang berlari menuju tangga. Plafon mulai runtuh.

"Jangan bodoh, Bang!"

"Percayalah padaku."

***

Rika berjalan terseok-seok di koridor menuju kamar Dodi. Masih sehari, tetapi dia ingin bertemu Dodi. Jika saja tidak ada Dodi, bukan, Pak Adam, mungkin dia tidak di sini sekarang. Ada sesuatu yang ingin dia tanyakan.

Sepertinya ada orang lain di kamar Dodi. Terdengar Dodi sedang berbicara dengan seseorang. Rika memberanikan diri mengetuk pintu.

"Masuk."

Rika membuka pintu dan menutupnya kembali. "Assalamualai...," Rika terdiam, "kum."

"Waalaikumsalam."

Rika masih terdiam. Segala pertanyaan atau apa pun yang rencananya akan dia bicarakan, menguap begitu saja. Tidak ada siapa pun di sana. Hanya Dodi sendiri, duduk di atas tempat tidur dengan gips di tangan kiri.

"Ada apa?" Dodi menatap Rika kemudian melirik ke kanan, ke arah sofa kecil yang kosong.

Rika mengikuti arah lirikan Dodi. "Apakah Pak Adam di situ?"

Dodi terperanjat.

"Apakah Pak Adam duduk di situ?" Rika mengulang kembali pertanyaannya.

"Ada apa? Datang-datang langsung ngomong ngawur." Dodi berusaha mengalihkan pembicaraan.

Rika maju ke arah tempat tidur Dodi, mengambil sesuatu dari saku piyama dan menyerahkannya kepada Dodi. "Aku ingin bertemu dengan pemilik surat ini."

Dodi menatap nanar benda di depannya. Amplop surat itu mulai kusam. Warna birunya sudah memudar. Dia tulis ulang isinya setelah melihat serpihan surat Adam yang sengaja dikoyak Andi, sahabatnya. Hanya saja, dia tambah sedikit tulisan di akhir surat dan menyertakan sesuatu di dalamnya. Dodi meletakkan surat itu di bawah meja Rika di hari terakhir sekolah.

Kembali Rika mengambil sesuatu dari saku piyama dan memperlihatkannya kepada Dodi. "Ini...." Rika tidak meneruskan kata-kata. Matanya mulai berkabut.

Adam terperanjat dan menatap Dodi. Itu adalah pita merah yang dibeli Adam. Inginnya akan diberi langsung kepada Rika ketika mereka bertemu. Namun, pita itu hilang entah ke mana.

Dodi merasa bersalah. Wajahnya memerah. Dia menyelipkan pita itu di dalam surat tanpa sepengetahuan abangnya dan berharap mereka akan bertemu. Namun, takdir berkata lain.

"Ini...," Rika tidak kuasa menahan air matanya, "selama kuliah, selalu kupakai," Rika terisak, "karena aku pun... selalu menunggu kedatangannya

"Dodi menangis. Wajahnya tertunduk menahan perih di dada. Sedangkan rahang Adam mengeras, menahan rindu dan rasa yang selama ini dia pendam.

2 komentar:

  1. Duh tragis banget ceritanya:'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. tengkayu, mba, udh mampir, 🤗, aku terkadang suka buat akhir yg tragis dn ambigu, mba 🤭, jgn lupa mampir lg di critaku selanjutnya ya, mba 🙏🏻

      Hapus

Mimpi Basah

  Airnya beriak ketika kukibaskan kaki ini di kolam yang berisi ganggang dan ikan sepat kecil-kecil. Sesekali tangan kanan ini pun menabu...