Jumat, 23 Oktober 2020

Giliranku

Mata Gilang nanar dan napasnya tersengal. Hanya bisa berlari tak tentu arah. Dia berhasil kabur setelah mencoba memukul kepala seorang pria dengan palu yang ditemukannya dari balik rak brankas di samping pintu. Namun, Gilang kebingungan, dia tidak tahu sedang berada di mana saat ini.

Kakinya mulai lelah. Petunjuk hanya berupa jalan setapak. Pepohonan tinggi di sisi kiri kanannya membuat keadaan sekitar semakin suram. Seakan tidak perduli, Gilang terus saja berlari. Tidak ingin mengambil resiko apa pun jika dia menghentikan langkah kakinya.

Lelahnya berbuah. Ada jalan beraspal di depan sana. Rumah-rumah sederhana pun mulai tampak. Gerak kakinya semakin kencang.

Tampak bus berhenti di dekat tiang listrik di samping pos ronda. Beberapa orang mulai naik. Gilang tidak ingin tertinggal. Napasnya memburu.

Tuhan! Tolong aku! Hap! Tangannya berhasil memegang erat handle pintu. Bus pun mulai bergerak ketika kakinya menjejaki tangga. Gilang terduduk kelelahan. Jantungku bisa copot kapan saja. Setelah agak reda, dia menuju bangku paling belakang di dekat pintu. Kondektur bus sedang berdiri di depannya.

Dari balik kepala si kondektur, ada tertempel selebaran di daun pintu. Gilang terbelalak. Wajahnya terpampang lebar di sana dan dibawah bertuliskan: HILANG.

***

Plastik yang membungkus wajahnya membuat napas terasa sesak. Udara yang tersisa merupakan hal terpenting untuk saat ini. Gilang berusaha menghemat tenaga dan dia tidak ingin mati konyol.

Matanya tertutup. Tangan dan kakinya juga terikat. Entah siapa yang begitu bodoh telah membawanya, atau katakanlah telah menculiknya. Walau bisa dikatakan keluarganya berada, akan tetapi, dia juga bukan dari keluarga yang cukup kaya. Ada motif lain dari orang yang menculiknya. Apa itu? Dia belum tahu.

*** 

Udara dingin melesat masuk menembus sisi pori-pori kulit hingga menusuk tulang. Gilang meringkuk menggigil di salah satu sisi ruangan. Sepertinya bukan hanya dia yang berada di sini. Ada suara meronta di samping kanannya.

Gilang menggeser tubuhnya ke arah suara. Setelah dua kali gerakan, dia berhenti sebentar, menarik napas sedikit demi sedikit dari balik plastik konyol ini. Syukur saja ikatan di lehernya tidak terlalu ketat.

Akhirnya kaki Gilang dapat menyentuh tubuh lain di sebelah kanannya tadi. Dia berusaha mengambil posisi untuk membuka tali di leher seseorang itu. Namun, karena seseorang yang berusaha Gilang tolong ini masih meronta, Gilang agak sedikit kewalahan. Dengan kasar Gilang meraih tangan si peronta. Digenggamnya erat sampai si peronta akhirnya kelelahan.

Posisi mereka saling membelakangi sekarang. Gilang terus meraba, mencari simpul di pergelangan tangan si peronta. Sadar dengan yang dilakukan Gilang, si peronta melakukan hal yang sama.

Masing-masing dari mereka berhasil melepaskan tali di pergelangan tangan. Gilang mengambil posisi duduk dan berusaha melepaskan tali di lehernya. Jantungnya berdegub kencang. Berharap untuk hal yang mustahil. Saat ini dia tidak ingin merencanakan apa pun. Karena sebaik-baiknya rencana adalah tidak punya rencana sama sekali.

Dari awal dia tersadar, segala rencana telah dia coba. Namun, tidak ada satu pun yang berjalan. Kali ini, hari ini dan malam ini. Tuhan pasti sedang menunjukkan jalannya. Rencana Tuhan pasti lebih baik.

***

Gigi Daniel menggelutuk. Di luar gubuk masih hujan. Bau bangkai yang menyengat membuat perutnya mual. Di sampingnya Gilang dan Bobi tertidur pulas. Sudah dua malam sejak mereka bertiga membebaskan diri dari segala macam ikatan di tubuh. Hujan yang juga tidak berhenti selama dua hari ini membuat mereka tidak bisa ke mana pun. Kabut di luar terlalu tebal. Makanan juga tidak tersedia. Kalau seperti ini sama saja dengan mati secara perlahan.

Hanya ada satu penerangan di dalam gubuk. Cahaya yang minim tidak memungkinkan mereka untuk memeriksa ruang sebelah yang terkunci. Selama dua hari mereka berusaha membuka pintunya, karena sepertinya bau bangkai itu berasal dari sana.

Daniel berjalan sempoyongan mengelilingi ruangan. Mencoba mengurangi rasa ngilu dan dingin yang menjadi. Jari-jarinya menyentuh dinding kayu gubuk yang dingin. Mata yang sayu dan bibirnya mulai melantunkan tembang apa pun yang dia tahu.

Gilang terbangun dan duduk bersandar dengan memeluk lutut. Bobi tetap memilih rebahan. Untuk mengangkat tubuhnya saja dia tidak sanggup. Dingin dan lapar membuatnya ingin tetap tidur.

Ruangan lima kali tiga itu hanya beralas rerumputan kering. Tidak ada pintu selain pintu ke ruangan yang sedang mereka buka kuncinya. Dinding pembatas ruangannya juga tidak sampai ke langit-langit. Penerangannya tepat menjuntai di atas dinding.

Tiba-tiba Daniel berlari ke arah Gilang dan Bobi.

"Kenapa nggak terpikirkan kita dari kemarin?" Daniel tersenyum senang.

"Memikirkan apa?" Bobi mulai duduk dan merapat ke samping Gilang.

"Kita panjat dari bahu kita untuk bisa ke ruangan itu. Bagaimana?"

Mereka berpandangan dan kemudian berdiri. Daniel langsung mengambil posisi berjongkok. Dia memilih bertumpu yang paling bawah kemudian Bobi lalu Gilang. Setelah berada di posisinya masing-masing, Daniel berdiri perlahan. Mereka merapatkan tubuhnya ke tembok agar tidak jatuh.

"Jangan terlalu lama. Langsung saja duduk di temboknya." Suara Daniel terdengar seperti orang kejepit.

Gilang langsung melompat pelan setelah tangannya mencapai sisi tembok atas. Bau bangkai yang sangat busuk semakin menyengat. Gilang berusaha meraih tangan Bobi, namun, Bobi menolak.

"Buka saja pintu itu," kata Bobi sambil mengisyaratkan kepada Daniel untuk menurunkannya.

Gilang memperhatikan seluruh ruangan. Penerangan yang remang mempersulit pandangannya. Ada lemari, kira-kira dua meter, di depannya. Gilang maju perlahan. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Bodi dan Daniel menatapnya dari bawah dengan perasaan was-was. Sampai di atas lemari, Gilang menurunkan kakinya. Agak goyang. Gilang hampir kehilangan keseimbangan. Syukur tangannya masih memegang sisi atas tembok. Lalu turun melompat dan menuju pintu. Pantas saja susah dibuka, ternyata pintunya dipalang dengan kayu besar. Gilang mengangkatnya dengan sekuat tenaga. Setelah hembusan napas yang kedua, akhirnya palang berhasil dia lepaskan.

Daniel mendorong pintu ketika mendengar suara palang jatuh. Diikuti Bobi, mereka menatap Gilang yang bermandi keringat. Kemudian saling berpandangan. Daniel maju melewati Gilang.

Ruangan itu lebih luas, memanjang. Banyak terdapat lemari dan rak di tiap dindingnya. Ada tiga meja panjang di tengahnya. Dua meja ada bungkusan yang menyerupai kantung mayat. Seperti menutupi sesuatu. Daniel berjalan ke arahnya, diikuti Gilang juga Bobi.

Bau busuk semakin menusuk. Daniel menutup hidung dan menatap Gilang serta Bobi yang juga melakukan hal yang sama. Tangan Daniel gemetar ketika akan membuka bungkusan yang menutupi sesuatu itu. Lagi-lagi dia menatap Gilang dan Bobi. Gilang mengangguk. Bobi menelan ludah.

Daniel menarik bungkusan itu. Belum sempat terlihat keseluruhannya, Bobi mundur dan langsung muntah.

"Aarrghh!!" Gilang pun mundur beberapa langkah diikuti Daniel.

Tubuh yang mulai membiru itu terbujur kaku, tanpa kepala, tanpa lengan. Mungkin juga tanpa kaki.

***

Mereka bertiga duduk rapat memeluk lutut masing-masing. Tidak ada yang bersuara setelah melihat isi ruangan di sebelah tadi. Hujan masih betah membasahi bumi.

"Setelah subuh nanti, kita harus keluar dari sini." Tiba-tiba Gilang bersuara.

"Caranya?" Daniel dan Bobi bertanya bersamaan.

"Apa tadi kalian nggak melihat ada pintu lain?" Gilang menoleh ke arah Daniel dan Bobi bergantian.

Mereka menggeleng.

"Aku tadi hanya fokus ke meja saja. Nggak memperhatikan yang lain." Daniel menjawab, hampir menggumam.

Bobi memilih diam.

"Bagaimana kalau kita periksa lagi ruangan itu? Siapa tahu bisa menemukan hal lain sebelum kita menyelamatkan diri." Gilang angkat bicara.

Tidak ada jawaban.

"Tunggu agak terang saja. Perutku masih tidak enak." Bobi akhirnya bersuara.

***

Pintu terbuka dan angin segar serta dingin menyeruak masuk ke ruangan yang berbau busuk. Hujan masih saja belum berhenti. Seorang pria paruh baya dengan jas hujannya masuk sambil menenteng sesuatu. Tubuhnya tinggi dan sedikit gemuk. Dia terperanjat melihat pintu di tengah terbuka lebar. Kakinya melangkah cepat menuju ruangan di sebelah yang sudah kosong.

Bobi tidak sabar dan segera berlari ke luar sehingga menyenggol rak penyimpanan alat-alat bedah. Sialnya lengan baju Bobi tersangkut di sudut rak karena sekrupnya yang hampir lepas. Pria itu berbalik dan bergegas mendatangi Bobi. Wajah panik Bobi tergambar jelas di sana. Tidak ingin tertangkap lagi, Bobi menarik lengan bajunya hingga robek. Rak jatuh dan menghamburkan semua yang ada. Melihat kesempatan, Daniel pun keluar dari balik pintu dan menerjang pria itu.

"Aaarrgghhhh!"

Daniel kalah besar dengannya. Pria itu menangkap kepala Daniel dan menghempaskan tubuhnya ke lantai.

"Ugh! Aarrrggh!"

Sepatu AP Boots pria itu mendarat di wajah Daniel. Bobi masih berdiri di depan pintu. Hanya terpaku menatap kejadian yang terjadi di depannya. Gilang menghantam palu sekuat tenaganya ke kepala pria itu. Sekali, dua kali, tiga kali, berkali-kali. Pria itu pun tersungkur di depannya. Daniel berusaha berdiri dibantu oleh Bobi. Mata Gilang nanar menatap tubuh yang tersungkur itu. Darah berceceran dan pria itu masih bisa berdiri. Gilang yang sudah kalap dan dengan sisa tenaga terakhir langsung melempar palu yang digenggamnya ke kepala pria itu. Namun, entah bagaimana, pria itu masih saja berusaha berdiri tegak.

Daniel langsung menarik lengan Gilang. Dan mereka berlari ke luar. Tidak perduli dengan hujan yang masih turun, mereka terus berlari.

Bobi lewat dengan motor roda tiga milik pria itu. Daniel dan Gilang langsung naik ke dalam bak. Terpaan angin dingin dan air hujan yang menusuk sudah tidak mereka hiraukan. Jalanan yang naik turun serta semak dan pepohonan di kiri kanan bukan penghalang. Kendaraan terus melaju di jalan setapak.

Tadi pagi setelah hari mulai terang, mereka menjalani aksinya, memeriksa ruangan berbau busuk itu. Ada satu lemari di sudut ruang yang terkunci. Pemiliknya begitu bodoh dengan meletakkan kuncinya di sisi atas lemari. Mereka terkejut dengan penemuan itu. Toples-toples berisi mata manusia tersusun rapi di sana.

Bobi tidak berhenti muntah. Gilang malah menemukan lemari tempat penyimpanan barang-barang korban. Baju, celana panjang, sepatu, tas dan segala macam aksesoris yang lain. Sebenarnya tempat apa ini? Dan siapa yang tega berbuat seperti ini?

Aktivitas mereka terhenti ketika mendengar suara kendaraan mendekat dan segera mencari tempat persembunyian. Gilang menggenggam erat palu yang dia temukan tadi. Matanya nanar menatap pintu yang akan terbuka. Kesempatan itu tidak akan datang dua kali.

Ya! Kesempatan itu tidak akan datang dua kali. Gilang menatap Daniel dan tersenyum, kemudian dia menangis. Daniel ikut menangis. Dari kaca spion, Bobi pun ikut menangis. Lalu mereka tertawa. Menertawai segala kebodohan yang mereka buat.

Tidak lama berselang, dari belakang kendaraan mereka terdengar deru motor X-trail. Tidak ingin percaya dengan situasi yang terjadi, Bobi menambah kecepatan laju motor. Naas. Ban motor tersalip batang pohon kayu yang melintang. Kendaraan oleng dan meluncur mulus ke jurang.

***

Terseok-seok langkah Gilang menelusuri jalan setapak. Napasnya memburu menahan luka menganga di lengan kiri. Dia belum merasa aman. Kakinya semakin cepat melangkah. Hingga akhirnya dia berlari. Berlari dan terus berlari.

Dia tidak tahu bagaimana nasib Daniel dan Bobi setelah mereka terhempas ke dalam jurang. Dia tidak ingin memikirkannya. Ada luka tertusuk dahan di lengannya. Seharian Gilang menunggu dari balik batang pohon yang menjorok ke jurang. Keberadaan mereka tidak terdengar. Gilang pun masih menunggu situasi dan keadaan aman untuk bergerak lagi. Gilang tahu, pria itu pasti juga menunggu. Paling tidak, keadaan itu bisa memberinya cukup ruang untuk memulihkan tenaga.

Mengingat hal itu membuat air mata Gilang berjatuhan. Larinya semakin cepat. Dia tidak ingin mengambil resiko untuk beristirahat atau menghentikan langkahnya sejenak.

Rumah-rumah kayu sederhana mulai terlihat. Ada secercah harapan dalam hati pemuda ini. Terlebih lagi setelah tampak olehnya jalan raya dengan kendaraan yang berlalu lalang. Tampak bus berhenti di dekat tiang listrik di samping pos ronda.

"Tungguuuu." Gilang menjerit dengan napas tersengal. Kakinya berhasil mencapai ujung pintu.

Terserah akan ke mana tujuan bus ini. Yang penting sebisa mungkin dia menjauh dari tempat menyeramkan itu.

***

Gilang tersentak dari tidurnya. Bajunya basah oleh keringat. Napasnya berat. Dia masih terduduk di bangku bus di sudut paling belakang. Tidak ada penumpang satu pun. Bangku bus terlihat berkarat di sana sini. Warna jingga menerobos masuk lewat sisi kanan kaca yang mulai buram.

Wajah pemuda itu pun tampak bingung. Dia berdiri dan melihat sekitarnya. Kemudian berjalan keluar dari bus dan bergidik ngeri melihat pemandangan di depannya. Ada berbagai macam bangkai kendaraan di sini.

Tanpa pikir panjang, Gilang menaiki atap bus. Pemuda itu tertegun. Apa ini? Sepanjang mata memandang hanya terlihat berbagai macam kendaraan berkarat. Dari yang ringsek sampai yang masih utuh. Dari kendaraan yang besar sampai yang kecil.

Gilang berjalan menuju matahari terbenam dengan melompati tiap-tiap atap kendaraan. Suara gedebug yang ribut tidak dihiraukannya. Hingga tiba di ujung, terpampang pemandangan yang tidak biasa. Ada jurang yang sangat dalam di bawahnya dan jauh di depan tampak seperti ceruk luas yang dipadati rumah warga.

Desau angin membawa Gilang ke alam yang lain, sampai kemudian pemuda itu berbalik karena mendengar langkah lain di atap kendaraan. Pupil matanya membesar. Ada keterkejutan yang luar biasa di sana. Mulutnya terbuka, ingin mengatakan sesuatu. Namun, pria itu sudah berada di depan dan mendorongnya.

Gilang terhempas untuk yang kedua kalinya ke dalam jurang. Matanya kosong menatap warna jingga yang membias di seluruh tubuh pria itu. Senyuman manis terukir di sana. Bagaimana bisa?

***

Lagi-lagi Gilang terbangun dari tidurnya. Matanya menatap lurus ke langit-langit. Dia menggigil. Penerangan minim ini seperti tidak asing lagi. Terdengar lantunan Mozard yang membahana. Selain itu juga terdengar suara dentingan alat-alat bedah yang sedang dicuci dari dalam mangkuk. Gilang menoleh ke kanan.

"Uugh! Uugh! Uugh!" Seketika dia berteriak. Namun, mulutnya tertutup lakban.

Di sana, di atas meja sebelah kanannya, kepala Bobi telah terlepas dari tubuhnya. Wajahnya menatap kosong ke arah Gilang, dengan mulut terbuka dan lengannya tidak ada.

"Uugh. Uugh. Uugh." Gilang meronta lagi dan berusaha menjerit. Kaki dan tangannya terikat.

Ada suara lain yang meronta. Dia menoleh ke kiri. Kondisi Daniel pun tidak jauh berbeda dengannya.

"Uugh! Uugh! Uugh!" Daniel menatap Gilang dengan mata panik. Kemudian menatap ke arah lain di samping kanan Gilang.

Gilang mengikuti arah mata Daniel, dan dia pun menoleh ke kanan.

Pria itu mendekatinya. Wajahnya tertutup masker. Di tangan kiri dan kanan ada dua pisau bedah yang sangat tajam ujungnya.

"Uugh! Uugh! Uugh!"

Pisau itu mengarah ke bahunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mimpi Basah

  Airnya beriak ketika kukibaskan kaki ini di kolam yang berisi ganggang dan ikan sepat kecil-kecil. Sesekali tangan kanan ini pun menabu...